Minggu, 15 Mei 2016

proyek buku "Three bachelors"

Homo Ekonomikus Kini benar-benar kedua jejaka minus Didi itu sedang dimabuk oleh gadis yang begitu memikat diri. Lupi semakin sering mendengarkan lagu cinta yang dibawakan oleh musisi-musisi Barat dengan terkadang dia menikmati musik sekelas Tommy J. Pisa yang mengiris-iris hati itu. Ipul kian getol membuat puisi tentang penantian seoarang kekasih. Fakta yang tak bisa digugat memang bahwa sang filsuf dramatik pun tak kuasa menahan keindahan seorang wanita. Dunia ternyata masi berjalan normal. Syukur kalau begitu! Lalu apa yang terjadi dengan jejaka penggemar mie instan di campur nasi yang beberapa hari lalu dadanya dibikin deg-degan tak tentu oleh Linda? Didi masih menjadi filsuf dramatik yang semakin enggan masuk kelas, yang masih menikmati buku, yang masih menjadi pelopor agar kedua sahabatnya itu untuk mengenali diri mereka sendiri. Didi masih menjadi pemimpin untuk bidang ini. Tapi kini perasaannya mulai gundah menggelisah. Tersebab sang penggoda kaum Adamkah? Ah, bukan. Ternyata lamat-lamat ia mulai menyadari bahwa kehidupan ala Jakarta semakin melulu materil. Segalanya harus menggunakan uang. Makan pake uang. Mandi pake uang. Tidur pake uang. Untuk pintar pake uang. Mau menikmati hiburan dan liburan pun pake uang. Sampai kepingin kencing pun harus mengeluarkan dua ribuan. Didi mulai berpikir ekonomis. Dia semakin realistis. Bah, sialnya kedua karibnya sedang digilai asmara yang meracau-galau. “Kita tidak boleh begini terus, kawan-kawanku, yang mulia,” kata Didi paska maghrib sembari ketiganya menonton televisi yang kini memuat berita tentang para artis yang rame-rame mau menjadi pemimpin daerah dan anggota dewan. Lupi dan Didi menoleh ke Didi. “Kalian belum nyambung ya sinyalnya?” lagi, kata Didi serius. Lupi dan Ipul menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kawan-kawan yang terhormat, kita harus nyari duit. Semakin hari harga apapun semakin naik. Intinya apaun pake duit.” Lupi dan Ipul mendengarkan dengan khidmat. “Kamu Lupi,” wajah Didi menoleh ke Lupi, “katanya kamu kepingin banget beliin si Nurkho novel-novel John Grisham. Ya, itu harus make duit. Lupi membenarkan. “Dan elu saudaraku, Ipul. Kata kami si gadis mangga Inderamayu itu pengen dapat cowok yang pintar dan tajir. Ya kalau soal pintar kamu memang pintar di antara kita. Tapi untuk urusan duit kamu memble kan?” Lupi agak ngikik mendengar cibiran Didi tapi Ipul tetap mendengarkan. Kemudian Ipul menimpali,” gue juga bosan dengan kondisi ini. Gue juga pengen beli gadget keluaran terbaru kayak teman-teman. Pengen beli baju yang bermerek. Pengen beli celana jins yang lagi ngetrend kayak orang-orang. Gue pengen lebih pokoknya.” Lupi memperhatikan Ipul seolah dirinya merasa prihatin dengan cowok betawi-cirebon itu. Mungkin dirinya baru mendapati Ipul yang ternyata ingin menjadi teman-teman kelas dalam gaya sehari-hari. “Ya tabungan gue juga sudah mulai terkuras. Masa harus nodong ke ortu. Malu lah!” Akhirnya Lupi dan Ipul lagi-lagi terpengaruh oleh ajakan Didi yang terasa menyentuh. Emosional. Tapi toh mereka membenarkan apa yang dikatakan penggemar Lola Amaria itu. “Ok kalau begitu kita mulai dari mana” tanya Lupi. Didi dan Ipul mulai memikir-mikir jalan apa yang mungkin berpotensi akan menghasilkan uang. Didi menggagas ide bagaimana kalau mereka bekerja di mini mart atau menjadi pelayan di makanan cepat saji. Alasannya sederhana. Untuk menjadi pekerja yang disebutkan tadi hanya perlu ijazah SMA sesuai yang mereka punya. Lupi dan Ipul menyetujui. Rencananya sepagi mungkin mereka akan mencari lowongan kerja di tempat yang sudah mereka tentukan. Pagi sekali mereka sudah berada di tempat makanan cepat saji. Asyiknya di pintu itu dipajang pengumuman kerja. Antusias mereka membuncah membaca lowongan itu. Pada pengumuman tersebut ditulis kriteria pekerja : minimal usia 17 tahun, pendidikan terakhir SMA, pengalaman tidak diutamakan, tekun dan rajin. “Ini sesuai dengan kita banget,” kilah Lupi. Namun pada tulisan tersebut tertulis kriteria : tidak sedang mengikuti perkuliahan. Ah, bukan rezeki kita! Karena mereka mengharapkan bekerja paruh waktu. Tapi di bawah persyaratan terakhir tertulis : tidak menerima pekerja paruh waktu. Wajah ketiga jejaka muda itu tertunduk layu, duduk di serambi makanan cepat saji itu. Mereka menghela nafas. “Susah juga nyari kerjaan,” kata Lupi sambil membetulkan rambutnya. “Kita tinggalkan saja kuliah supaya dapat kerjaan ini,” Didi bersaran. Ipul menggelengkan kepala. “Tidak.” Didi menagih alasan. “Bagaimanapun niat kita ke Jakarta itu belajar, bukan nyari duit.” Terang Ipul yang masih memperhatikan kuliah meskipun terkatung-katung. “Betul juga,” Lupi membenarkan. Didi tidak bisa berdalih karena bagaimanapun setidaknya pada semester ini mereka harusnya bisa mendapatkan nilai untuk beberapa mata kuliah. “Ok kalau begitu kita nyari kerja paruh waktu,” Didi beride. “Siap. Tapi di mana?” tanya Lupi bersemangat. Ipul memberi usul. “Di koran-koran besar.” Ketiga jejaka muda itu mendadak bungah. Mereka bangkit berdiri. Menyetop kopaja yang sekarang sudah agak bagus ketimbang sebelumnya. Tapi tetap saja di dalam kopaja tersebut cuaca masih sangat gerah. Setiba di kostan setumpuk koran lokal dan nasional mereka kumpulkan setelah dibeli dari perempatan bakso arah ke kostan mereka. Mereka membagi tugas. Masing-masing memeriksa halaman lowongan kerja dari koran yang dibaca. Detil sekali mereka meneliti satu per satu kolom lowongan kerja. Dari mulai kolom lowongan kerja untuk bagian kepala staf, auditor, analis keuangan, sekretaris, sampai marketing. Tapi bisang-bidang itu diperuntukan kepada pelamar yang bergelar strata satu dan dua. Alhasil ketiga jejaka muda itu tidak masuk kualifikasi. Sampai tiba ketika Ipul meneliti lagi kolom koran yang dibacanya tertulis : lain-lain. “Nah ini!” kata Ipul sumringah. Didi dan Lupi terperanjat. Tanda-anda kemakmuran seolah berdiri di depan mata mereka. Mengapa mereka begitu terkejut diiringi rasa bahagia? Karena pada halaman ini tertulis lowongan yang tak perlu memiliki persyaratan sarjana dan kerja paruh waktu. Pada kolom ini disebutkan : dibutuhkan apply data entry part time, mahasiswa/ibu rumah tangga/pensiunan. Income 3-8 juta/minggu. Send cv ke deni.humaedi@yahoo.com. Lupi yang langsung tergiur mengucek-ucek matanya. “Serius ini?” “Ini kesempatan kita,” timpal Didi dengan menepuk-nepuk bahu Lupi yang berlemak. Ipul mengepalkan tangannya seraya berkata,”gue bayangin bagaimana kalau sudah bekerja berminggu-minggu. Gue bisa beli gadget terbaru. Tiap minggu kita bisa makan di restoran mewah. Dan yang paling penting gue bisa memperlihatkan semua ini ke si gadis mangga itu. Sekalian kita bisa nantangin bapaknya buat naikin harga kostan.” Ketiganya terkekeh. “Dan gue bisa beliin nurkho novel-novel John Grisham,” Lupi mulai bermimpi. “kalau elu mau ngapain, Di?” Ipul melirik Didi. Lupi sedikit tersenyum. Didi belum bisa membayangkan. Dia kali ini kalah telak. ‘Sesegera mungkin kita kirim cv ke alamat imel itu,” kata Didi mengalihkan pembicaraan. Lupi dan Ipul hanya bisa mengangkat mata. Setelah sehari mengirim cv ketiga jejaka itu berharap-harap cemas. Mimpi-mimpi yang mereka bayangkan juga belum pasti. Hmmm mereka sekarang lebih menjadi mahasiswa yang membawa misi untuk mencari kekayaan semata. Tujuan mereka semula untuk menuntut ilmu mulai berubah haluan. Dalam kemenungguan itu ponsel Didi berdering. Sang pemanggil bernomor 02178xxxx. Ini pasti telepon kantor jikalau dilihat dari kode angkanya. Besar kemungkinan cv mereka direspon. “Ya benar ini Didi.” Jawab Didi dari sang pemanggil yang rupanya resepsionis dari perusahaan yang ditunggu-tunggu. “Bisakah besok datang ke kantor kami untuk wawancara?” tanya si resepsionis. “Sangat bisa,” jawab Didi penuh percaya diri. Didi menyepakati setelah dia mencatat alamat kantor perusahaan sesuai yang dibacakan oleh sang pemanggil—resepsionis. Lupi dan Ipul antusias. “Mantap, di,” serentak mereka berseru. “Terus kapan dong giliran kita?” Lupi mulai tak sabar dengan melirik kepada Ipul. Beberapa menit kemudian ponsel Lupi dan Ipul berdering. Bukan main senangnya mereka karena ternyata yang menelepon adalah perusahaan yang sama, yang menelepon Didi. “Kita harus menyiapkan mental dari sekarang supaya besok tampil meyakinkan,” terang Lupi sambil mondar-mandir. Ipul membuka laptop bekasnya. Dipasangnya modem internet. Dia hendak mencari tips agar interview berjalan lancar di mesin pencari google. Lupi menelepon kakaknya untuk menanyakan tentang hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan untuk interview. Sedang Didi tak tahu apa yang harus diperbuat. Tak tahu siapakah yang harus dihubungi. Aha, bukankah Linda cukup berpengalaman untuk urusan ini. Lagi pula dirinya sudah lama tidak bertemu dengan wanita seksi itu. Rupa-rupanya diam-diam Didi mengangeni wanita yang usianya lima belas tahun lebih dari usianya. Rencananya Didi sore ini akan bertandang ke kostan Linda. Setiba sore Didi mengetuk pintu kostan Linda berkali-kali tapi tak ada suara yang merespon. “Mbak Linda sudah beberapa hari ini tidak di kostan,” kata bu Rosa, tetangga kostan Didi. Letak kostan bu Rosa berada di sebelah kostan Linda. “Ke mana?” tanya Didi penasaran. “Enggak tahu ya, mas,” timpal bu Rosa yang agaknya lebih tua dari Linda. Didi merasakan kejanggalan perasaan. Mendadak entah mengapa hatinya tidak terlalu senang mendapati kostan Linda yang kosong. Dia merasam ingin mencari wanita itu. Tapi ke mana? Entahlah. Yang jelas saat ini mengapa dia begitu menginginkan Linda bukan karena urusan interview. Dia tidak mendapatkan tips interview tapi Lupi dan Ipul mendapatkannya. Pagi-pagi sekali jejaka muda itu bersiap menyisir rambut, menyemprotkan wewangian ke tubuh, mengenakan kemeja dan celana bahan yang rapi, memakai sepatu yang mengkilat. “Kita akan menjadi orang nyang berbeda hari ini,” kata Lupi. “Sepakat,” kata Didi. “Bersiap menjadi mahasiswa yang lulusnya lama. Sesepuh kampus,” Ipul menambahkan. Kemudia ketiganya terbahak-bahak. Cepat sekali mereka tiba di gedung yang terletak di kawasan Sudirman ini. Gedung itu menjulang tinggi, mencakar langit. Memiliki lantai yang bertingkat-tingkat. Di lantai tujuh. Ya, mereka harus menuju lantai tujuh. “Mas Lupi,” seorang resepsionis memanggil Didi untuk masuk ruangan wawancara. Didi dan Ipul tetap duduk di ruang tunggu. Di ruangan itu terdapat lebih dari seorang pelamar kerja. Wajah-wajah mereka nampak antusias, penuh dengan harapan akan sebuah pekerjaan yang bisa mengubah kehidupan mereka. Termasuk ketiga jejaka muda itu. Lupi membuka pintu kaca. Seorang wanita berjas sedang duduk di kursi eksekutif. “Silakan duduk,” kata si pria yang rupanya pewawancara itu. Lupi duduk dengan sikap terjaga. Wajahnya menampilkan ketenangan yang dibuat setenang mungkin sesuai petunjuk kakaknya agar sesi wawancara berjalan sukses. “Mas Lupi Samarupi?” tanya si pewawancara. Sang pewawancara adalah seorang wanita yang kira-kira berusia mendekati angka empat puluh tahun. Kulitnya menyembul cerah. Matanya hampir gelap. Bulu matanya lentik tanpa rekayasa. Jari-jari tangannya lentik tanpa rekayasa dengan kutek merah di kukunya yang terawat rapi. Bodinya sedang, ngepas. Tidak ramping juga tidak berisi tapi cukup indah dipandang mata. “Ya,” jawab Lupi dengan penuh wibawa. “Sudah pernah mengentri data?” tanya si wanita. “Tidak, Bu.” Lupi menjawab denga jujur sesuai perintah kakaknya. Karena bagaimanapun jujur merupakan trik untuk menarik perhatian si pewawancara bukan karena alasan moral. “Sudah siap?” tanya si wanita itu kembali. Lupi sedikit bingung. “Maaf siap untuk apa?” Lupi menjadi tidak enak hati dan merasa tidak sopan. Harusnya ia menjawab, bukan kembali bertanya. “Bekerja!” “Apa gue diterima bekerja?” kata Lupi dalam hati seolah tak percaya. “Menakjubkan.” Kata Lupi lagi dalam hati. “Minggu depan kamu mulai mengikuti pelatihan,” demikian kata wanita yang berbodi ngepas ini. “Selamat,” katanya lagi dengan menjabat tangan Lupi yang sedikit berkeringat. Oh, Lupi semakin bahagia. Sementara di pemandangan lain juga terjadi peristiwa yang menyenangkan hati. “Bayangkan saja tiap minggunya kamu akan mendapatkan pemasukan tiga juta per mimggu. Sebulan kamu bisa mendapat berapa itu? Tinggal dihitung saja!” kata si pewawancara kepada Didi. Jantung Didi berdegup bahagia. Bukan main senagnya dia. “Kamu bersedia?” tanya si pewawancara. “Bersedia, komandan!’ jawab Didi yang tak bisa menahan emosinya. Si pewawancara itu tersenyum ramah. Didi dan Lupi sudah kembali duduk di ruang tunggu. Sedang Ipul baru keluar dari ruangan wawancara. Matanya berkaca-kaca bahagia sambil memeluk Didi dan Lupi. Suasana menjadi haru dan klimaks. “Kita akan menjadi pemuda tajir,” kata Ipul begitu emosional. “Lalu kuliah kita?” tanya Didi menguji. “Persetan dengan kuliah,” jawab Ipul. Didi dan Lupi tertawa-tawa. Pesona Elisabeth Hari yang ditunggu tiba sudah. Semalam mereka tidak tidur larut malam karena memang besoknya akan menjalani pelatihan yang pertama. Mereka bangun lebih awal dari orang-orang yang bersiap menjalankan shalat subuh. Semangat mereka mengalahkan kemalasan. Jam delapan tepat yang diharuskan mereka untuk sampai di kantor itu dibalas dengan ketepatan waktu yang luar biasa. Malah mereka tiba di kantor itu satu jam sebelum waktu yang ditentukan. Maklum mereka sedang bersiap menjadi jejaka paling tajir di Indonesia. Mereka berangan mengelilingi Indonesia dengan gaji yang akan didapat. Mereka akan menikmati kuliner nusantara dengan uang yang berlimpah. Mereka akan melakukan segalanya dengan uang. Lalu kapan mereka akan membeli buku untuk menumpas pikiran gendeng mereka? Uang sudah mengubah mereka seribu persen. Mereka memasuki ruangan. Ruangan itu dipenuhi orang-orang yang haus uang. Orang-orang itu yang dilihat ketiga jejaka muda itu selama wawancara. Kira-kira jumlah mereka sekitar enam puluh orang. Dari jumlah sebanyak itu dibagi menjadi sepuluh kelompok. Satu kelompok terdiri dari enam orang. Setiap kelompok dipandu oleh satu orang pelatih. Jadi keseluruhan ada enam pelatih yang dipimpin oleh pelatih utama. Pelatih utama ini berwujud wanita yang berwajah Indonesia tapi aksennya terasa lain. Aksennya sedikit cepat dengan kadang-kadang menggunakan bahasa Inggris. Wajah wanita itu licin karena sering memakai krim. Rambutnya dicat merah dengan menyisakan warna gelap. Seperti warna rambut jagung yang sudah matang. Kulitnya bersih. Roknya selutut. Pantatnya gempal. Tubuhnya sangat seksi aduhai. Wanita membuka pelatihan dengan percaya diri. Ia memulai dengan pelan. Tapi beberapa menit kemudian ia mulai menggebu-gebu. Suaranya penuh magis membangkitkan gairah kami. Pagi-pagi jiwa kami kebakaran. Wanita itu menutup pembukaan hari ini dengan sukses. Semua yang hadir seolah menjadi manusia baru. Kemudian ia berkeliling memeriksa tiap kelompok. Hingga tiba ia di kelompok ketiga jejaka muda itu. Didi, yang dari tadi merasakan debaran, malah memperhatikan wanita itu ketimbang pelatih mereka. Nampaknya Didi mengingat Linda yang sudah lama tak dilihatnya. Wow! Wanita itu sungguh menggoda gaira Didi. Ingin Didi berbincang dengan wanita yang ternyata asli kelahiran Malaysia yang memiliki nama Elisabeth. Didi memanggilnya Elis supaya terdengar lebih Sunda. “Kamu dipanggil,” ucap Bu Erma yang satu kelompok dengan Didi. “Ya, pelatih,” kata Didi yang kaget. “Kamu mau memilih bagian apa?” tanya si pelatih itu. “Bagian paha, Pak,” jawab Didi yang tak mengerti pertanyaan yang diajukan. Maklum dirinya berimajinasi terlalu tinggi tentang Elisabeth yang seperti mangga mengkal itu tapi bukan mangga Inderamayu anak pak kost itu loh. Satu kelompok itu tertawa mendengarnya. Pelatih pun ikut tertawa tak terkecuali Elisabeth yang mesem-mesem geli mendengar jawaban konyol itu. Didi menjadi keki. Dia menunduk sedikit malu. “Didi ini seorang seniman khayal, Pak. Daya imajinasi liar. Ke mana-mana tapi dia suka daun tua,” timpal Lupi dengan senang hati. “Tapi sayang si daun tua sedang pergi entah ke mana. Jadi pikirannya sedang galau,” Ipul menambahkan. “Kalau mau duit jangan mikirin ke mana-mana,” timpal Elisabeth yang membuat satu kelompok itu hening. Kemudian pelatih itu meneruskan materinya. Materi pertama adalah tentang komunikasi yang efektif dan efisien. Pelatih yang usianya baru menginjak tiga puluh itu memiliki kumis yang tidak terlalu pas. Sebaiknya kumit itu dicukur saja supaya lebih cocok dengan bentuk bibir dan wajahnya. Wajahnya juga tidak lelaki banget sehingga membuat Ipul ingin muntah saja. Tapi di perusahaan lelaki yang kemayu itu justru dipilih. Apa tidak ada lelaki lain? Perusahaan macam apa itu? Sebagai peserta mau tak mau Ipul menahan kegeramannya. “Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang bisa dimengerti oleh yang mendengarkan atau forum. Kita tidak perlu menggunakan bahasa yang canggih sementara forum tidak mengerti. Itu hanya buang-buang waktu,” kata si pelatih itu. Satu kelompok jejaka muda itu mendengarkan penuh perhatian kecuali Didi yang masih memperhatikan Elisabeth yang berkeliling memeriksa kondisi kelompok lain. Si pelatih kemayu itu melirik Didi. “Mas Didi?” “Ya,” kata Didi yang masih pula memperhatikan Elisabeth. “Bagaimana komunikasi yang baik itu?”tanya si pelatih. “Yang baik? Komunikasi yang baik itu ya langsung ke jantung perasaannya, Pak. Dijamin target akan klepek-klepek. Saya sudah membuktikannya semasih sekolah dulu,” jawab Didi santai tanpa memperhatikan peserta yang lain. “Apa yang sedang Anda pikirkan, Mas Didi?” tanya si Pelatih kemudian. Didi masih diam tak benar-benar menyadari suasana. “Apa yang sedang Anda pikirkan?” si Pelatih mengulang lagi dengan nada keras. “Wanita itu.” “Siapa?” “Wanita itu!” “Bisa diperjelas?” “Ya wanita itu, Pak.” “Siapa namanya?”tanya si Pelatih agak keras. Para peserta pelatihan mulai menikmati aksi ini. Lumayan! “Elisabeth Mariam,” jawab Didi. “Cuma satu?” si Pelatih memancing. “Tidak.” Didi mulai terpancing. “Siapa lagi?” “Linda Bleszinky.” “Apakah kamu tidak memikirkan aku?” si Pelatih keceplosan. Para peserta tertawa. Didi mulai sadar. Dia juga ikut tertawa. Si Pelatih yang kemayu jadi keki. Dia tidak berani menatap ke sekeliling. Tiba-tiba dia minta izin ke toilet untuk menahan rasa malunya. Elisabeth yang sedang memeriksa kelompok lain mendengar kericuhan kelompok jejaka itu. Apalagi dia mendengar jelas namanya disebut. Ia melangkah ke arah kelompok Didi dengan langkah yang tangkas tapi menggoda. “Anda memanggil saya?” tanyanya ke arah Didi. “Ya,” Didi mengangguk. “Ada keperluan apa?” Didi melihat bibir merah wanita itu. Bibirnya digincu warna pink yang sedikit kemerah-merahan. Tonjolan dadanya menyembul. Dada Didi mendadak tertikam. Ser-seran tak karuan. Sungguh indah makhluk Tuhan ini. “Ada keperluan apa?” wanita itu mengulang. Ipul, Lupi, dan ke empat orang lainnya merasa tak enak. “Kapan Anda memberi pelatihan kepada kami?” Didi menjawab. Dia sudah lihai mengalihkan suasana. Elisabeth Mariam tersenyum. “Mengapa memang?” Elisabeth meneliti Didi yang sudah tidak keki lagi. “Supaya kami semangat,” tukas Didi. Wanita itu tersipu. Senyum. Kemudian bersikap elegan. “Nanti ada gilirannya,” jawab Elisabeth dengan melangkah pergi. Pelatih kemayu yang melihat perbincangan Didi dan atasannya itu sedikit cemburu. Rupa-rupanya si kemayu itu menaruh hati kepada Didi sejak pertama kali melihatnya. Didi sedikit bergidik melihat si Pelatih kemayu yang kembali ke kelompoknya. Tapi pikirannya berkelabat, berimajinasi sedang menikmati pantai berdua. Berdua saja. Yang lain tidak boleh ikut termasuk Lupi dan Ipul. Tertipu “Pilih Elisabeth atau Linda?”Lupi menggoda Didi. Ipul menambahkan, “cinta memang tak mengenal usia.” “Kalian sudah gila. Sudahlah yang penting bagaimana caranya kita bisa mendapatkan uang segera,” Didi mengalihkan pembicaraan, seperti biasa. Tapi Didi benar-benar memikirkan wanita Malaysia 42 tahun itu. Dia tak habis pikir mengapa wajah dan bodi wanita itu menggumpali pikirannya. Jantungnya bergetar seperti pegas bila membayangkan wajahnya yang menggairahkan pandangannya. Di setiap pandangannya hanya ada Elisabeth Mariam. Pun setiap melihat wanita yang lebih dewasa seolah wanita itu Elisabeth. Didi mulai mati kutu. Inikah jatuh cinta pada pandangan pertama? Jangan-jangan dia akan mengungkapkan perasaannya kepada wanita Malaysia itu? Tapi sebentar Didi diam. Dia mendadak mengingat Linda Bleszinky. Apa Linda sudah pulang ke kostan? “Mau ke mana?” tanya Lupi. “Mau keluar sebentar,” kilah Didi. “Bukankah mau berangkat tidur supaya besok berangkat lebih pagi. Kan mau ketemu Elisabeth?” Ipul menimpali. “Ngaco, elu.” Didi mulai keluar. Dari pintu kostan ia melangkah ke kanan. Berjalan pelan seperti mengendap. Dia meneliti bangunan. Bangunan itu gelap. Hanya ada cahaya listrik dari dalam. Itu kostan Linda. Linda benar-benar tidak ada di dalam. Ke mana wanita cantik itu? Entahlah. Tapi Didi begitu ingin bertemu dengannya. Didi duduk di kursi santai di teras kostan Linda. Sebatang rokok berfilter ia hisap. Wajahnya muram. Rambutnya kusut. Sungguh pikirannya dijejali dua wanita yang usianya lebih tua darinya. Tapi sesekali senyumnya menyungging. Kemudia dia menoleh ke belakang seolah Linda sedang berada di dalam. “Kalau sudah cinta mengapa harus diam saja?” suara Ipul mengagetkann lamunannya. “Cinta itu haram hukumnya dipendam,” Lupi ikut berpartisipasi. “Seperti mual dimuntahkan pasti lega. Ditahan akan sakit.,” kata Ipul lagi. “Gue enggak tahu nih kenapa...” “Elu sebenarnya suka sama Linda kan?”Lupi memotong perkataan Didi. Didi mengangguk malu. “Gue memang gendeng ya! Jatuh cinta sama wanita yang lebih tua.” “Masih normal kok daripada tidak sama sekali,” Lupi membalas dengan suara yang terkekeh. “Gue serius nih,” Didi membela. “Tapi elu juga suka Elisabeth kan?” tanya Ipul. Didi diam membisu, kemudian menjawab, “Melihat Elisabeth seperti melihat Linda. Melihat Linda seperti melihat Elisabeth.” “Elu belum mantap. Masih ke sana kemari,” ungkap Ipul jujur. “Begitulah,” jawab Didi.”Sudahlah yang penting kita harus mewujudkan untuk menjadi pemuda paling tajir se-Indonesia,” Didi berkilah. Ketiga jejaka itu lalu masuk ke kostan. Tapi Didi berharap akan bertemu Linda di alam mimpi sekalipun hanya beberapa detik. *** Ini adalah hari terakhir pelatihan. Sesi pertama diisi oleh sang Core Trainer—pelatih utama, Elisabeth Mariam. Wanita yang ternyata masih singgel itu menampilkan wajah yang bersemangat karena itu memang kewajibannyan untuk menggenjot gairah para peserta. Pembicaraannya dimulai dengan konsep menarik dan menggugah meskipun terdengar klise. Katanya, “untuk mendapatkan uang kita mesti bekerja keras, cerdas, dan tekun.” Tak ada yang salah dalam perkataannya itu. Ia melanjutkan lagi, “kita mesti menjadi manusia kaya raya jika ingin membantu sesama.” Sekali lagi tak ada yang salah dengan perkataannya itu. Ia kemudian menanyai kelompok tiga jejaka itu. Setiap peserta dari kelompok itu nampak bersedia dengan pertanyaan yang akan diajukan kecuali Didi yang setengah sadar karena pesona Elisabeth. “Apa mimpi Anda?” tanyanya kepada Heni, peserta asli Betawi yang sudah memiliki tiga orang anak. “Punya penghasilan lebih. Tidak bergantung kepada suami,”jawabnya tegas. Elisabeth mengangguk. “Anda?” tanyanya kepada Hesty, peserta asli Tangerang yang baru saja lulus kuliah. “Membeli rumah yang mewah untuk kedua orang tua!” tandasnya. Elisabet mengangguk. “Anda?” tanyanya kepada Erma, peserta dari Jakarta yang usianya lebih dari Elisabeth. “Memiliki penghasilan lima belas juta perbulan,” timpalnya seperti ibu-ibu yang baru menikmati kesombongan. Elisabeth mengacungkan jempol kepadanya. “Anda?” tanyanya kepada Lupi. Lupi menjawab, “menjadi pemuda paling tajir se-Indonesia. Punya mobil mewah. Rumah megah di Pondok Indah. Punya kapal pesiar. Punya pulau, dan pengen punya pacar cantik,” jawab Lupi meyakinkan. Elisabeth tersenyu puas. “Anda?” tanyanya kepada Ipul. Ipul tak mau kalah dengan Lupi, “menjadi pemuda paling tajir sejagat. Punya istana megah. Punya berhektar-hektar kebun kelapa sawit, kebun jati, kendaraan canggih, punya klub sepak bola, dan punya pacar paling canti sedunia.” Elisabeth juga tersenyum puas. “Kalau Anda?” tanyanya kepada Didi yang masih berada di alam mimpi. “Aku menginginkan Anda, miss,” tandasnya dengan setengah sadar tapi gendeng. Elisabeth memahami bocah yang dianggapnya masih ingusan itu. Sementara yang lain terkekeh. “Mimpi kali ye?” Bu Erma menimpali. “Cemburu buta nieh,” timpal Ipul sambil melirik Bu Erma. “Sudah, sudah!” Elisabeth sedikit membentak sehingga terdengar oleh kelompok lainnya yang sedang mendengar materi dari pelatih. Semua peserta hening. “Kamu yakin dengan ucapan kamu tadi?” Elisabeth menguji. Didi kembali ke alam sadar. “Yakin,” jawabnya karena kadung jujur. “Ok. Kamu memang pemuda berani. Tapi sadarkah kamu mengucapkan itu?” Elisabeth terus menguji. “Sangat sadar.” “Kamu serius?” “Serius pun tak mampu mewakili keyakinan perasaan saya. Saya sangat menaruh hati kapada Anda, Miss.” “Apa keahlian kamu?” tanya Elisabeth. Didi tidak berkilah. Diam. Elisabeth menanya lagi, “Berapa penghasilan kamu?” Didi tak mau harga dirinya luntur. “Saya adalah pembaca buku yang baik. Dan sekarang sedang berusaha menjadi penulis besar. Soal penghasilan, terus terang belum ada tapi...” “Tapi apa?” kata Elisabeth. “Tapi perlu waktu,” kata Didi. “Dan dengan kerja di sini. Perusahaan ini penghasilan saya akan lebih besar dari Anda, Miss Elis,” Didi membela diri. Sedang yang lain tak percaya apa yang dikatakan Didi. Bulshit. Mana mungkin bocah kemarin bisa menghasilkan pendapatan Elisabeth yang berpuluh-puluh juta per bulan. Mustahil. Elisabeth memperhatikan keberanian Didi. Sebenarnya Didi pemuda yang berpotensi, menurutnya. Dari segi fisik Didi termasuk pemuda yang jantan dan gagah. Ah tapi apa yang dikatakan Didi itu lelucon yang datang dari dunia seberang. “Hebat. Kamu pemuda hebat.” Didi merasa jumawa. Merasa sedang di puncak paling tertinggi. “Tapi kamu harus realistis dengan kondisimu. Kamu harus mengenali dirimu yang sekarang,” Elisabeth memotivasi tapi lebih terasa menyindir di telinga Didi. Kemudian ia melanjutkan lagi, “lebih baik kamu lupakan mimpi-mimpi kamu itu. Jadilah pemuda paling tajir se-Indonesia seperti kata teman-teman kamu itu.” Didi mencerna dalam-dalam wanita penggoda itu. Baru pertama kali ini dia mendapat penolakan dari seorang Hawa. Zaman memang sudah berubah. Cinta perlahan-lahan digantikan oleh materi. Makan tuh cinta! Materi yang disampaikan oleh Elisabeth selesai. Kesimpulan dari materi yang disampaikan dengan mengugah itu hanya soal pencapaian kesuksesan yang diukur dengan materi berlimpah. Dan itu cukup membuat Didi mual dan tak enak badan bukan karena kesimpulan wanita itu yang keliru tapi lebih kepada penolakan yang memalukan. Kini tibalah pada materi terakhir yang disampaikan oleh sang pelatih kemayu itu. Pelatih kemayu itu menjelaskan deskripsi pekerjaan yang akan peserta lakukan. Pertama adalah skop HRD yang bertugas menerima dan memilih calon pelamar. Kedua, adalah bagian keuangan. Ketiga, bagian cek data. Dan terakhir bagian administrasi. Setiap peserta memilih skop-skop itu sesuai minat masing-masing. Dijelaskan oleh si kemayu itu bahwa masing-masing pekerjaan akan diganjar tiga juta rupiah per dokumen dan per minggu. Mendengar itu peserta tampak antusias dan bungah. Impian mereka selangkah lagi tercapai. Lupi dan Ipul akan menjadi pemuda paling tajir se-Indonesia sebentar lagi. Didi akan membeli wanita Malaysia itu. “Tapi kalian harus membawa orang untuk investasi di perusahaan kita!” kata si kemayu. Peserta bengong, belum memahami. “Mengajak?” tanya Bu Erma. “Betul,” kata si pelatih. “Minimal berapa rupiah?” tanya Bu Erma lagi yang nampaknya paham dengan bisnis ini. “Minimal satu orang dua puluh juta.” Jawab si Pelatih. Semua terperanjat. Maukah orang berinvestasi dengan uang segede itu sementara jaringan—kenalan mereka bukan orang-orang tajir. “Komisi?” Bu Erma mulai mengerti. “Bawa satu prospek investor dapat satu juta. Bayangkan kalau kalian dapat sepuluh orang. Tinggal hitung saja,” si kemayu mulai mulai menjual mimpi-mimpi. “Gila,” kata Didi. “Gue enggak sanggup kalau begitu. Syukur-syukur orang itu dapat percaya sama kita.” “Enggak jelas ini perusahaan,” Hesty menimpali. “Sudah kuduga ini perusahaan ngibul,” cela Bu Erma. Si kemayu hanya bisa mengangkat bahu. Kemudian mereka bubar begitu saja. Sedang teman-teman yang lain hanya menggurem kecewa. Sialan! Waktu mereka habis untuk pelatihan yang tidak berguna ini. Lupi dan Ipul mangkel. Mimpi mereka untuk menjadi pemuda paling tajir pupuslah sudah. Keinginan membahagiakan Nurkho tak tercapailah sudah. Mimpi untuk mendapatkan si gadis mangga Inderamayu semakin mustahil. Tapi Alhamdulillah bagi Didi karena setidaknya dia bisa menikmati keindahan wanita Malaysia yang materialistis itu sekalipun sih hanya bisa memandang plus membayangkan jalan-jalan bersama wanita itu di pantai Bali dengan menyewa hotel yang serba wah.

proyek buku Three bchelors

Gadis Mangga Inderamayu Sekalipun Nurkho merasakan Lupi sedang ingin mendapatkan hatinya, gadis bermata gelap dengan kulit lembut itu masih menganggap Lupi sebagai partner bercakap-cakap saja. Namun Lupi tidak mau menyerah sebelum keringat kering. Dia akan tetap bertekad mendapatkan hati si mahasiswi psikologi itu. Di sela-sela perjuangan cinta Lupi, ada kejadian menarik yang terhampar di kostan tiga jejaka muda itu. Kejadian ini tentu tidak terlalu menggemparkan karena yang mengalami hanya Ipul yang diketahui oleh kedua sahabatnya. Adalah seorang gadis yang juga mahasiswi yang memiliki rambut lurus, bentuk hidung yang standar, wajah tak cantik-cantik amat tapi sangat manis, dan bodinya yang kontemporer. Ratih, nama si gadis manis itu. Ipul sering melihat gadis itu di sekitar kostan karena memang gadis itu merupakan anak dari Pak Dirman, sang pemilik kostan asli Betawi. Saat kali pertama melihat gadis Betawi itu Ipul tidak sama sekali merasakan getaran di dada meskipun berkali-kali ia memeriksa dadanya untuk memastikan apakah hatinya menaruh minat pada Ratih. Kejadian itu bermula ketika Didi dan Lupi sedang melakukan aksi pencurian buku yang kedua di perpustakaan kampus. Ya, mereka masih berniat mencuri buku kampus karena mereka merasa itu adalah hak mereka. Kalau sudah bicara hak pasti kewajiban dilupakan. Pasti apapun sekalipun itu moral akan ditabrak tanpa tedeng aling-aling. Ipul tidak menemani mereka bukan karena alasan moral tapi merasakan ketakutan jika aksi gila dan biadab ini tertangkap basah oleh penjaga perpustakaan. Jejaka Inderamayu ini lebih memilih membaca buku dan belajar menulis. “Permisi,” suara perempuan terdengar mengetuk pintu. Ipul bersegera membuka pintu. “Maaf mengganggu,” kata Ratih. Ipul mengangguk sopan. “Mas Ipul, ada waktu enggak?” “Buat?” “Bisakah Mas Ipul membantu mengetik makalah saya. Saya sudah ngetik tapi belum selesai-selesai. Tugasnya banyak sekali. Mau dikerjain ke rental tapi sekarang jasa pengetikan terlalu mahal,” kata Ratih agak malu. Ipul harus bersikap profesional dengan bisa saja dia menolak karena harus menyelesaikan bacaannya. Tapi yang meminta adalah anak sang pemilik kostan. Ipul mengalah lebih karena menghormati sang ayah dan hitung-hitung menolong sesama. Apalagi si gadis itu sungguh manis. Menarik! “Siap! Mana tugasnya.” Ratih mengulur senyum. Ipul memandang sekejap senyum itu. Hmmm cukup manis juga gadis ini. Dan ternyata kalau dilihat dari dekat, kulitnya halus, wajahnya semakin manis bak mangga Inderamayu, bodi kontemporenya juga semakin menggoda. Ipul menjadi semakin berela hati apabila si gadis ini meminta pertolongan kapanpun. “Ini,” kata Ratih sambil menyodorkan tugasnya. Ipul segera menyalakan laptop jeleknya. Oh, ketikannya memang banyak sekali. Pantas saja Ratih menyerah. Tapi Ratih cukup pintar juga karena di kostannya ada penghuni yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kuliahnya. Jejaka Inderamayu ini mulai mengetik antusias. Ya dia antusias karena memikirkan penampilan Ratih yang bagaikan mangga Inderamayu. Aduhai! Dia harus tampil optimal dan mengundang pesona. Siapa tahu Ratih mempertimbangkannya sebagai pasangan. Ah, mimpi kali! Ratih anak juragan kostan sementara orang tuanya bukan juragan apa-apa. Beberapa menit Ipul sudah mengerjakan beberapa lembar. Pingganngnya pegal, matanya lumayan lelah harus berhadapan dengan sinar laptop tapi ia harus bersemangat untuk tampil mengesankan di depan si Gadis mangga Inderamayu itu. “Ini,” kata Ratih yang menyodorkan beberapa roti unyil dari Bogor dan Jus mangga kepada Ipul. Ipul menyambutnya dan mengucapkan terima kasih dengan sopan kepada Ratih. Dipikirnya Ratih akan pergi, membiarkan dirinya berkonsentrasi toh memang tugas mengetik tidak perlu pengawasan dari yang menyuruh. Tapi Ratih malah duduk lesehan beberapa langkah di sebelah Ipul. Ini kesempatan, kata Ipul. Tapi cukup membuat tubuhnya berkeringat karena sedikit gugup. Karena harus tampil sempurna Ipul menahan semua lelahnya. Menahan rasa pegal pinggangnya. Melawan kantuk yang mulai menyergap. Ini demi cinta, katanya dalam hati. Dada Ipul semakin kembang-kempis ketika Ratih mengawasi pekerjaannya. “Ada kesulitan enggak, Mas Ipul?” tanya Ratih dengan perhatian. “Masih bisa diatasi, Mbak.” Tapi perut Ipul tiba-tiba mulai terasa ada yang mengganjal. Sesuatu yang mengganjal itu turun ke pantatnya. Gawat. Pantat Ipul diserang kentut. Ipul mau ke kamar mandi sebentar untuk membuang kentut, tapi pinggangnya yang pegal tak kuat untuk berdiri. Mau tak mau ia harus menahan sekuat tenaga agar angin yang berpotensi menganggu penciuman itu sekuat mungkin ditahan. Wajah Ipul mulai memerah karena harus berjibaku menahan serangan angin bau itu. Matanya juga mulai ikut berjuang. Tapi serangan angin itu terlalu kuat. Pertahanan pantat Ipul sudah mulai bobol. Akhirnya angin bau itu mulai bersuara kecil. Tuuut, seperti suara tuts piano kecil. Ratih sedikit terkejut. “Apa itu?” kata Ratih sambil menutupi hidungnya dengan tangannya. “Tikus. Tikus,” kata Ipul pura-pura panik tapi kini sudah lega. “Ah, Mas Ipul,” kata Ratih yang masih menutup hidingnya. “Mas Ipul Jorok,”katanya lagi. Ipul menunduk malu meskipun bibirnya tak kuat menahan senyum. “Kadang kita sesekali harus merasakan apa yang belum kita rasakan, Mbak Ratih, “ Ipul sedikit membela. Ratih menyimak pembelaan Ipul. Sejurus kemudian ia mulai tertawa-tawa. “Ide yang bagus tuh, mas Ipul.” Hati Ipul mulai merasakan kelegaan karena si manis itu bisa diajak rumit sedikit menahan bau kentutnya. “Kentut aku ini jarang-jarang diciumi hidung orang-orang lho. Jadi Mbak Ratih salah satu orang yang khusus.” Ipul mencoba menarik diri Ratih. “Kentut sepesial ya, Mas.” Ratih tidak mau kalah berseloroh humor. Ipul tertawa. Ratih juga mengikuti tingkah Ipul, tertawa sampai ia sendiri tidak bisa menahan kentutnya. Beberapa menit kemudian mereka tertawa lagi. “Skor kita jadi 1-1 (satu-satu),” kata Ratih. Lagi-lagi mereka tertawa seolah sedang mendapatkan anugerah humor yang diturunkan oleh Tuhan yang Maha menyukai seseuatu yang lucu-lucu. “Mbak, maaf nih, harusnya kan yang mengetik tugas mbak itu pacar mbak.” Ipul mulai memancing-mancing. Memang jejaka-jejaka muda itu pintar mengalihkan pembicaraan. Tidak percuma mereka selama ini membaca buku dengan serius. Ratih membisu sebentar. “Oh, Mas Ipul enggak mau keberatan ya dipinta tolong?” ucap Ratih pura-pura kecewa dengan muka yang agak ditekuk tapi manisnya tetap terasa. Ipul menggelengkan kepala. “Tidak, kok.” “Aku masih menjomblo, mas.” Terang Ratih kalem, merespon. “Oh,” Ipul mengangguk-angguk. “Kenapa masih menjomblo?” “Aku termasuk tipe yang menunggu, Mas. Cewek reaktif.” Ipul masih merasa heran. Ya betul kaum perempuan memilih didekati ketimbang mendekati meskipun ini zamannya emansipasi. Tapi begitulah hukum perempuan berjalan di manapun itu. Hanya segelintir perempuan yang berani agresif kepada lelaki-lelaki. Itu pun dianggap perempuan yang melanggar dan menurunkan harkat-derajat kaum perempuan. Tapi? Tapi Ratih manis. Agak terdengar aneh jika tak ada kaum adam untuk berusaha mendekatinya. Apa yang sebenarnya terjadi? “Yang mendekati pasti banyak dong?” “Menjauh malah,” jawab Ratih santai. “Kenapa?” Ipul mulai penasaran. Ratih tidak menjawab. Justru ia meminta Ipul segera menyelesaikan ketikannya. Ipul tidak mau menginterogasi sekalipun dirinya ingin mengetahui alasan mengapa gadis mangga Inderamayu tidak didekati oleh para pemburu wanita. “Tapi ada dong yang mbak sukai di Fakultas Pendidikan—Tarbiyah?” Ipul mau memancing-mancing lagi. “Kelihatannya?” Ratih mengikuti ritme permainan. “Pasti ada.” Ipul menebak. “Begitulah,” kata Ratih singkat. Sialan! Ipul termakan dengan permainannya. Keterbukaan Ratih cukup membikin hatinya meredup. Bisa-bisa kesempatan untuk mendapatkan gadis manis ini tertutup. Tapi benarkah dirinya sudah jatuh hati beneran kepada Sang Puteri itu? “Kalau, Mas Ipul, sudah punya gebetan?” Ratih bertanya balik. Ipul tak menunda-nunda jawaban. Dia langsung tancap gas menjawab. “Tentu belum dong.” “Bohong,” timpal Ratih. “Sumpah,” balas Ipul yang jari-jari tangannya masih mengetik dan matanya fokus pada lembaran-lembaran yang hendak diketik dan monitor laptop. “Kenapa?” “Mustahil.” Ratih menyipitkan mata. “Maksudnya?” Ipul menyiapkan kata-kata yang pas. “Saya orangnya tidak istimewa, Mbak. Tidak pintar dan juga tidak punya materi,” jawaban Ipul seperti ingin mengundang simpati agar Ratih berkata, “ah, Mas Ipul suka merendah diri. Bisa aja mas Ipul ini.” Namun jawaban yang ditunggu tak kunjung diujarkan. Ratih seperti tidak bergeming. “Pengen tahu caranya supaya cewek klepek-klepek sama Mas Ipul?” Ratih menawarkan ide. Ipul terperanjat. Menawarkan gagasan? Wong Ratih juga katanya tidak ada lelaki yang mendekatinya. Hmmm dunia sudah terbalik, tidak berputar lagi. “Boleh,” Ipul berlagak penasaran. “Mas Ipul harus banyak belajar supaya pintar. Kemudian Mas Ipul harus cepet-cepet nyari duit supaya tajir. Nah, pasti cewek-cewek klepek sama Mas Ipul,” jawab Ratih lugas dengan senyum yang ditahan. Padahal sebenarnya ia tak enak hati mengucapkannya. Sialan! Ipul cukup keki juga dibuatnya. “Oh, begitu ya,”Ipul menimpali. “Hmm mbak Ratih suka cowok yang pintar dan bermateri?” kembali Ipul memancing. Ratih memain-mainkan ponselnya seolah cuek dengan pertanyaan Ipul. Ipul menghela nafas. Ratih menjawab kemudian. “Aku suka cowok yang apa adanya.” Bijak sekali cewek ini. Ini cewek yang gue cari. Kata Ipul dalam hati. Ratih memperhatikan Ipul detil. “Adanya si cowok itu ya berduit. Adanya si cowok itu keren. Adanya si cowok itu ganteng dan menarik. Adanya si cowok itu yang ok segala-galanya, Mas Ipul,” jelas Ratih yang dibaluti mimik serius. Ipul dibikin keki lagi. Sialan! Sialan! Kesempatan untuk mendekati Ratih tertutup sudah. Tapi Ratih tak kuat menahan tawa melihat wajah Ipul yang menggambar seperti anak kecil yang tak berhasil mendapatkan mainan yang diinginkannya. “Sudah selesai, Mbak,” sela Ipul dengan membuka Flashdisk Ratih yang menancap di Laptopnya beserta lembaran-lembaran tulisannya. Ratih tersenyum senang. Tugas yang akan dikumpulkan besok segera selesai. Ia tinggal mengirim soft copy-nya ke imel dosen mata kuliah filsafat pendidikan. “Terima kasih ya, Mas Ipul.” Ipul menjawab, “sama-sama. Itu urusan kecil bagi saya.” Ipul mulai menyombong. “OK. Kalau aku repot tinggal panggil mas Ipul saja ya. Entar aku tinggal bilang, ‘Mas Ipul tolongin ketikin tugas saya dong’, “ kata Ratih enteng. Nafas Ipul memberat. Tapi tidak apa-apalah demi gadis mangga Inderamayu ini. “Eh, Mas Ipul,” kata Ratih pelan. Ipul merespon. “Ada apa, Mbak?” “Aku belum punya imel,” ucap Ratih agak malu-malu. Ipul bersikap biasa mendengarnya. “Bukannya belum punya sih, tapi terus terang aku tidak bisa berumit-rumit berusan dengan kecanggihan media sosial. Dengan kecanggihan teknologi modern,” lanjut Ratih jujur. Ipul mengambil nafas, lalu mengeluarkannya lagi. “Oh,” kata Ipul agar terdengar tidak kaget. “Aku mau minta tolong sampeyan bikinin aku imel. Aku pun tidak punya fesbuk. Kuno banget ya aku?” “Ah santai saja, Mbak,” Ipul mencoba bersikap akomodatif “Mau tidak, mas Ipul?” “Hamba laksanakan, Tuan Puteri.” Ipul menggoda dan Ratih menyungging senyum. Ratih segera meningglakan kostan sambil pamit mengucap salam kepada Ipul yang menjawab salam si gadis gagap kemajuan teknologi itu. Ipul malah memandangi gadis itu dari belakang sambil memikir apakah karena kekunoannya ia tidak didekati oleh para kaum adam kendati dirinya begitu manis untuk dicintai. Begitu indah untuk dipandang. Begitu ranum untuk dibelai. Begitu pintar, ah begitu pintar? Bukankah ia tidak punya akun media sosial di tengah modernitas zaman untuk dikatakan pintar? Ah pokoknya begitu manisnya ia sampai-sampai tidak bisa didekati oleh Ipul.

proyek buku "Three bachelors"

Cinta Sebelah Belakangan ini ada pemandangan yang lebih tak biasa di antara mereka bertiga. Yang membuat perbedaan itu adalah Lupi. Lupi yang memiliki gagasan segar untuk mendinginkan ketegangan Didi dan Ipul lebih suka menyendiri, senyum-senyum sendiri, melamun sendiri, dan segalanya serba sendirian. Tapi mengapa penampilannya juka ikut berbeda. Rambutnya yang disisir ke sisi kanan digubah menjadi agak mohawk dan lebih trendi mengikuti remaja yang baru menginjak sekolah menengah atas. Pakaiannya selalu wangi dan ke mana-mana selalu membawa sapu tangan untuk menghindari keringat. Gaya bicaranya yang tidak menarik ia ganti agar tampak memiliki wibawa. Lupi tengah menyukai lawan jenis. Itu kemajuan. Bagus. Setidaknya menghindari cibiran kalau ketiga jejaka muda itu tak laku. Jomblo sekarat. Malah-malah menghindari fitnah kalau mereka penyuka sesama jenis. Tapi kepada siapa ia melabuhkan perasaaannya? Ah, si gadis yang ditaksir itu memiliki nama Nurkholifah. Lupi kali pertama melihat Nurkho— begitu ia memanggil gadis pujaannya itu lebih karena kalau memanggil nama penuh akan terasa kaku dan kalau memanggil singkat dengan nur saja itu sudah pasaran—di perpustakaan saat Nurkho menjatuhkan buku seperti di film-film saja. Tapi Lupi saat itu tidak hendak mencari buku tapi akan mencuri buku bersama Didi dan Ipul yang sama-sama berantakan. Rupanya setelah pandangan pertama itu Lupi terus-menerus mencari Informasi tentang Nurkho. Lupi seperti pengintai, menguntit Nurkho dari belakang. Dia ingin tahu dimanakah gadis yang bibirnya senantiasa basah ini menuju fakultas. Dia tidak berani menanyakan langsung kepada Nurkho karena debaran demi debaran yang melingkupi jantungnya. Debaran itu akan menghancurkan jantungnya kalau dibiarkan. Fakultas si gadis itu sudah terlacak, Lupi tinggal mencari tahu siapa teman dekat Nurkho. Berkat pengalaman dan keluwesan bergaul Lupi berhasil mengakrabi teman dekat Nurkho dan berhasil mendapatkan informasi plus seluk beluk Nurkho. Jejaka yang wajahnya berminyak ini memang cerdas. Dia sudah berhasil mengelabui kita semua. Pendekatan yang tidak langsung kepada target—Nurkho—ini memang sengaja ia lakukan. Bukan karena dia kikuk, canggung, atau cemen kepada kaum hawa. Itu semata-mata karena strategi jitu. Agaknya kita harus ingat betul bahwa ia terlalu biasa menghadapi perempuan semasih ia duduk di sekolah kejuruan yang didominasi murid-muris perempuan. Kalau sudah Lupi mengetahui tentang Nurkho, kesempatan untuk lebih akrab dan dekat lagi semain besar. Dan itu akan menimbulkan kesan bahwa Lupi memang cowok menyenagkan di mata Nurkho. Nurkho mengunjungi perpustakaan setelah kelas paginya rampung. Lupi mengikuti. “Mencari buku ini ya?” kata Lupi membelakangi Nurkho yang sedang memburu buku di rak. Nurkho sedikit terperanjat, menoleh ke belakang. Nurkho meneliti buku yang tengah dipegang Lupi. Tapi sebentar kemudia ia memandang Lupi sebentar. “Ya, betul,” katanya sambil senyum. “Untuk kamu,” Lupi mengulurkan buku itu kepada Nurkho. Nurkho tampak senang tak tertahan sebab sudah berhari-hari ia mencari buku itu di deretan rak perpustakaan yang bertuliskan SASTRA. “Kok kamu bisa tahu aku nyari buku ini?” tanya Nurkho antusias sembari memegang buku novel “Ganti Rugi” yang ditulis oleh John Grisham itu. “Aku memperhatikanmu!” jawab Lupi dengan senyum yang gagah. Nurkho tampak terkesima tapi mencoba terlihat elegan. “Berlebihan,” Nurkho berusaha tidak terpengaruh. “Kamu melupakan sesuatu, mahasiswi!” Wow! Nurkho nyaris terkekeh dengan gaya pengucapan Lupi. Tapi beberapa detik kemudia ia menyeringai. “Kita pernah bertemu di sini. Di deretan buku ini. Bertabrakan. Menjatuhkan buku. Hmmm seperti di film-film romantis itu.” Nurkho melebarkan senyumnya yang mirip Rani Mukherjee, aktris cantik Bolywood itu. Nurkho sejenak mengingat-ingat kejadian itu. “Oh ya aku ingat,” jawabnya singkat. “Mari kita duduk.” Nurkho mengjaka Lupi duduk di bangku yang di sediakan di perpustakaan. “Ngomong-ngomong,” kata Nurkho yang hendak bertanya, “ waktu itu kamu mau nyari buku apa?” Ditanya seperti itu Lupi mengernyitkan dahi. Bukan untuk mengingat sesuatu tapi mencari jawaban yang pas sebab waktu itu ia berencana mencuri buku yang menurut ketiga jejaka muda itu adalah perbuatan legal karena ada hak setiap mahasiswa. “Memburu,” kata Lupi. Nurkho tersenyum geli. “Memburu kamu,” Lupi mulai merayu. Nurkho yang berusaha serius kembali tampak tidak bergeming dengan gombalan Lupi. “Ini cowok baru kenal sudah sok dekat,” ketus Nurkho dalam hati. Tapi meskipun demikian Nurkho cukup terhibur dengan jejaka gendeng ini. Nurkho yang mahasiswi psikologi tapi penyuka novel hukum John Grisham ini bukanlah mahasiswi culun yang baru mengenal cowok. Jadi ia tidak sedikit kaget dengan style Lupi yang sok ingin dekat itu. Tapi lagi-lagi ia harus mengakui Lupi memang terlihat menyenangkan. Lupi mulai menangkap aroma yang harusnya tidak basa-basi dan gombalan ini. “Aku waktu itu nyari novel juga sih.” “Anak sastra ya?” tanya Nurkho. Lupi menggeleng. “Anak politik.” “Pennggemar sastra? Hmmm penggemar novel maksudku?” Lupi mengangguk. Wajah Nurkho menjadi sumringah. Senang bukan main karena setidaknya ia bisa memiliki teman yang memiliki kegemaran yang sama. Lupi yang mengklaim lihai dalam memikat perempuan mampu membaca gestur Nurkho. “Waktu itu aku juga lagi nyari novel-novel John Grisham,” kata Lupi. Nurkho mulai takjub. Kemudian, ia mengulas senyum Rani Mukherjee-nya itu. Giginya yang putih rapi terlihat. Matanya yang gelap semakin menarik hati Lupi. Manis tenan cewek ini. Cantik gila cewek ini. Ini tidak boleh disia-siakan. “John Grisham memang luar biasa ya. Gaya nulisnya sederhana tapi idenya menarik sangat. Lebih menarik lagi buku-bukunya selalu bikin pembaca di kita tahu tentang praktek hukum di Amerika. Khususnya dunia pengacara.” Nurkho terlihat seperti anak kecil. Lupi mengiyakan. “Dia memang bekas pengacara.” Selagi hanyut oleh John Grisham, Nurkho membolak-balik lembaran novel itu. “Kamu suka buku-bukunya yang mana?” tanya Nurkho. Mendengar pertanyaan itu tenggorokan Lupi sedikit tersedak. Tapi toh ia sudah merasa tahu karya-karya John Grisham. “Ya disertasi kuliahnya lah,” jawab Lupi tenang. Nurkho melongok. Aneh. Beberapa detik kemudian ia ngakak. Tidak memedulikan bahwa di sekitarnya banyak mahasiswa yang tengah asyik membaca dan memburu buku. Lebih-lebih ia tidak memedulikan kalau di hadapannya ada Lupi. “Kamu konyol,” kata Nurkho. “Tapi aku mau kamu jawab betulan,” katanya lagi. “Bukunya yang judulnya The Street lawyer—Pengacara jalanan.” Nurkho menandaskan senyumnya. “Aku takjub dengan keputusan Michael yang memutuskan kerja di biro hukum besar berpindah ke biro hukum kecil yang konsen membela tunawisma. Padahal bayarannya kan lebih kecil ketimbang di biro hukum terdahulunya. Sampai-sampai ia mempertaruhkan rumah tangganya demi bekerja di biro hukum tak berduit itu,” jelas Nurkho berusaha mengulang kembali isi buku Pengacara Jalanan yang sudah selesai dibacanya beberapa minggu lalu itu di sela-sela jadwal kuliah psikologinya. Nurkho terlihat asyik dengan penjelasannya itu. “Seandainya kamu menjadi dia—Michael? Nurkho nyerocos lagi. “Aku tidak tertarik pada hukum, sayangnya,” Lupi mengangkat bahu. Tapi serentak dia menyadari bahwa dirinya dan Nurkho baru saja kenalan. Setidaknya, Lupi memberikan jawaban yang terbaik. “Maksudku, aku tidak pernah mengikuti ilmu hukum dan berita aktualnya,” Lupi tampak membela diri. Nurkho mengembalikan senyumnya yang dikecewakan. Nurkho memang tipe perempuan yang pertanyaan-pertanyaannya kudu dijawab sekalipun jawaban itu penuh gimik. “Jadi?” Nurkho menagih. “Secara moral aku pasti membela para tunawisma. Tapi untuk kekayaan aku akan memilih biro hukum yang berduit. Tergantung di mana kita meleihatnya. Perspektif,” Lupi unjuk gigi. “Aku mau yang pasti.” Lupi diam sejenak. “Aku mau menaruh harapan kepada cowok yang jujur.” Kata Nurkho lagi. “Ok aku memilih biro hukum besar.” “Teganya kamu kepada orang-orang jalanan,” Nurkho tiba-tiba emosi tapi ia segera menyadari bahwa mereka baru mengenal. “Maaf,” katanya singkat. Lupi memakluminya sekaligus senang. Ini pertanda Nurkho memang tipe perempuan yang terbuka dan menyukai dialog. “Jangan berisik.” Suara itu muncul dari muda-mudi ini, mengagetkan mereka, tentunya. “Kalau mau ngobrol di luar saja. Ini perpustakaan.” Si petugas perpustakaan berkata kembali. Lupi dan Nurkho senyum-senyum saja. Mereka merasa malu dengan pengunjung perpustakaan lain. Tapi dalam hati sebenarnya mereka tertawa. Semenjak peristiwa manis di perpustakaan itu, Lupi senyum-senyum sendiri sambil rebahan di kasurnya. Imajinasi yang tergambar dalam pikirannya hanya Nurkho. Senyuman Rani Mukherjee-nya, mata gelapnya, kulit lembutnya, kata-kata si gadis itu sudah menusuk-nusuk jantung Lupi. Untungnya Nurkho bukan tipe gadis yang jaga imej, tertutup, dan susah diajak bicara. Ia adalah kebalikan semua itu. Tapi Lupi tahu gadis yang memiliki selera asyik semacam Nurkho tidak mudah jatuh hati sekalipun beberapa kali ia bertemu dan bercakap-cakap dengan seorang lelaki. Lupi harus menemui gadis itu. “Elu mau ke mana, Lup?” tanya Ipul. Didi menambahkan, “wah elu nyaris ganteng!” Ipul ngikik mendengar pujian setengah hati Didi. “Mau menemui Filsuf perempuan.” “Anak mana?” “Psikologi tapi suka novel hukumnya John Grisham.” “Mengerikan!” kata Didi. “Filsuf perempuan yang tidak romantik,” Ipul menambahkan. “Tapi menyenangkan,” Lupi membela. “lanjutkan!” Didi menimpali. Ipul memberi semangat, “perempuan makhluk penyuntik. Dapatkan dia!” “Kalian mau masuk kelas?” tanya Lupi pada Didi dan Ipul. “Mau numpang tidur,” timpal Didi enteng. “Jadilah mahasiswa yang baik demi kepentingan bangsa,” balas Lupi sedikit meledek. Lupi semakin percaya diri oleh dorongan kedua sahabatnya yang masih menjomblo itu. Ah, bukankah Lupi juga masih menjomblo. Sementara ini dia sedang berusaha untuk menghapuskan status jomblonya. Berhasil atau tidak itu tergantung ikhtiarnya. Nurkho sedang membaca buku di depan kelasnya dengan duduk di kursi panjang yang terbuat dari besi. “Menarik?” Nurkho menghentikan bacaannya. Kemudian senyum mautnya mengembang. “Mengecewakan.” Lupi memeriksa novel yang dibaca Nurkho. Judul novel itu adalah The Book Of Shalahudin karangan Thariq Ali. “Dari minggu kemarin aku berusaha menyelesaikan novel ini tapi baru dapat beberapa halaman saja sudah ngantuk. Sungguh membosankan alurnya.” “Tak pernah membaca novel percintaan?” tanya Lupi. “Kamu tidak masuk kelas?”Nurkho balik bertanya. “Aku tak akan menjawab sebelum kamu menjawab pertanyaanku tadi.” “Ok,” kata Nurkho menyepakati. “Aku tidak suka yang cengeng-cengeng. Aku tak suka drama. Aku tak suka romantik. Mereka semua tidak maju. Monoton. Aku suka cerita yang lebih realistis. Suka cerita yang sehari-hari tapi dibalut dengan gaya bahasa yang lugas.” Lupi menyimak seolah dirinya akan mempersiapkan menjadi lelaki yang heroik. “Kamu tidak masuk kelas?” Lupi sesungguhnya sangat menghindari pertanyaan yang tidak menarik itu tapi ia harus jujur karena bukankah Nurkho menaruh perhatian kepada pria yang jujur. “Tidak,” jawabnya ringkas. “Bukankah ada kelas?” “Ada. Tapi sudah lama aku mengabaikan kelas.” Nurkho mengangkat alisnya sejenak. Kemudian menurunkannya lagi. “Mau menemaniku?” “Ke mana?” tanya Lupi dengan antusias. “Kwitang. Nyari buku mata psikologi dan novel.” Lupi mengiyakan segera. “Kamu...” “Aku tidak punya pacar,” sela Nurkho yang sudah tahu arah pertanyaan Lupi. Maklum, karena ia mahasiswa psikologi yang sudah bisa menebak maksud seseorang. “Kenapa?” “Bukan belum ingin sih, tapi belum menemukan yang menarik.” “Kalau begitu aku tidak menarik donk,” Lupi memulai dengan senyum yang percaya diri. Nurkho tertawa terbahak. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu terlalu percaya diri. Aku suka cowok yang percaya dirinya tinggi,” jelas Nurkho, hidung Lupi mengembang. “Tapi aku belum tertarik sama kamu, Lupi!” Hidung Lupi kembali mengempis. Nurkho tertawa melihatnya.

Rabu, 11 Mei 2016

Menginjak Bumi, Menggapai Langit

Menginjak Bumi, Menggapai Langit Gapailah cita-citamu setinggi langit! Demikian ungkapan populer yang kita dapat sedari kecil. Sejak kecil kita pernah ditanyai oleh keluarga kita dan guru tentang cita-cita kita kelak. “Apa cita-cita kalian anak-anak?” tanya seorang guru kepada kelas. Beragam jawaban muncul dari teman-teman kelas. Sebagian mereka menjawab ingin menjadi dokter, insinyur, presiden, menteri, tapi ada seorang murid yang menjawab dengan percaya diri ingin menjadi artis sekaliber Ahmad Dhani. Agak kaget sang guru mengangkat alisnya yang tidak terlalu gelap. Kemudian sang guru yang bernama bu Mudrikatun bertanya, “Kenapa kamu ingin menjadi seperti Ahmad Dhani?” si murid yang dinamai Anom Ali oleh kakak perempuannya menjawab, “Ahmad Dhani tanpa menjadi seorang dokter, insinyur, presiden, dan menteri pun toh terkenal juga kan, sudah kaya raya lagi. Bahkan pernah dicalonkan jadi gubernur!” jawab si Anom Ali dengan nada yang terkesan menyindir. Teman-teman kelas yang lain bergemuruh, menyoraki Anom Ali. Bahkan sang guru yang selalu setia dengan jilbabnya menggeleng-gelengkan kepala. Si Anom Ali yang memang selalu berbeda tanpa dibuat-buat, sedikit menyunggingkan senyum. Seolah ia sudah memenangi kompetisi dalam event yang besar. “Cita-citamu aneh!” kata Febriana, gadis cilik yang beralis lentik yang menurut Anom Ali sangat menarik tapi gadis itu selalu jijik dengan gaya Anom Ali yang selalu melirik genit kepadanya. Anom Ali menerima kata-kata Febriana dengan senang hati meskipun teman-teman yang lain merasa Febriana meledek habis-habisan. “Terima kasih gadis cilik,” ujar Anom Ali, “tapi kamu manis juga.” Anom Ali mengulur senyum. Sementar Febriana merengut sinis menatap Anom Ali. Ibu Mudrikatun menenangkan mereka dan menjelaskan kepada kelas bahwa yang dicita-citakan oleh Anom Ali sah-sah saja. Atau meminjam dalam bahasa agama, tidak dilarang sehingga tidak perlu menanggung dosa. Kasus yang terjadi pada Anom Ali, yang itu adalah aku semasih duduk di bangku SD memang bukanlah sekelumit peristiwa yang harus digaduhkan karena setiap manusia wajib memiliki cita-cita sekalipun itu dianggap aneh nan nyeleneh. Karena keanehan dan kenyelenehan itu pada suatu waktu akan menampilkan kebenarannya tanpa kita sadari. Dalam melihat kasus ini aku menjadi teringat perkataan seorang pemikir Islam yang di sekitar tahun 1970-an melontarkan sebuah pemikiran keislaman yang dianggap tabu dan lebih-lebih dianggap menyimpang. Namun perlahan-lahan gagasan si pemikir tersebut terbukti di kemudian hari. Si pemikir tersebut pada sekitar tahun itu dan tahun-tahun selanjutnya selalu menggaungkan tentang harusnya umat Islam melakukan pembaharuan dalam pemikiran pemahaman agama. Upaya pembharuan pemikiran ini ditujukan untuk menjawab segala tantangan zaman yang bergerak ke arah modernisasi. Modernisasi yang menawarkan meajuan harus diinisisasi oleh sikap yang maju pula. Nama pemikir tersebut tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita khususnya bagi masyarakat yang gemar dan mengikuti perkembangan pemikiran keislaman. Nama tokoh yang memang memiliki raut wajah yang teduh itu bernama Nurcholis Madjid yang akrab disapa Cak Nur. Aku di sini tidak hendak mengurai pemikiran beliau yang mudah-mudahan dirahmati Tuhan di alam sana. Biarlah detil pemikirannya ditulis oleh orang-orang yang ahli keislaman. Namun pelajaran penting dari Cak Nur adalah keberanian kita untuk mengemukakan pemikiran yang ada di kepala kita. Soal salah dan benar itu urusan nanti. Jika benar tentu akan memiliki kemanfaatan, jika salah tentu akan diperbaiki oleh orang-orang yang dianggap memilikim kapasitas kepakaran. Namun yang menjadi masalah bagi aku, si Anom Ali selalu ceplas ceplos dalam mengemukakan pemikiran yang ada di kepalanya tanpa ditimbang matang-matang—namanya juga anak kecil. Keceplas-ceplosan itu berjalin-menjalin di kemudian hari. Teman-teman kelas SD aku yang memiliki cita-cita berbeda dariku kini pelan-pelan mulai terlihat terwujud. Sebagian mereka ada yang menjadi dokter dan pengusaha, tapi untuk yang bercita-cita menjadi presiden dan menteri agaknya harus bersabar dulu ya. Harus menunggu beberapa tahun lagi. Sementara aku di usia sekarang belum menandakan gejala-gejala yang membahagiakan. Nah, menurutku yang menjadi masalah bukan bentuk cita-citanya mau jadi apa, tapi yang harus disimak adalah asal-usul lahirnya cita-cita. Sejak kecil aku selalu diakrabi dengan ungkapan bercit-citalah setinggi langit, dan kemudian wujudkanlah. Dari ungkapan itulah aku mulai bertekad untuk menjadi orang paling kaya meskipun harus menjadi musisi Ahmad Dhani. Tekadku ini kian berlanjut seiring usia menambah. Aku tetap berkeinginan menjadi seorang anak uda yang kaya. Guna mewujudkan cita-cita tersebut aku bekerja serabutan sewaktu menjadi mahasiswa. Setidaknya bisa menjadi mahasiswa yang memiliki uang lebih dari mahasiswa lainnya. Kutulislah dalam bukuku target-target besar yang harus dicapai. Dalam buku yang kunamai buku sakti itu ditulis kalau sudah semester II aku harus sudah memiliki motor gede sekelas Ninja RR dan harus sudah berpenghasilan dua juta ke atas. Namun, semester II kuinjak tidak ada ada tanda-tanda targetku tercapai. Malah aku hidup ngos-ngosan demi mengenyangkan perut dan membayar biaya kostanku. Sekalipun target itu tidak tercapai aku mulai memasang target yang lebih tinggi lagi, tapi lagi-lagi target yang kupasang nihil termanifestasi. Dan buntutnya adalah kekecewaan. Dari kasus itu aku mulai menyadari bahwa tak perlulah hidup memasang cita-cita atau target-target yang terlalu tinggi—meskipun cita-cita itu penting—karena bila tidak tercapai akan membuat kepala kita seperti pecah ditimpa bebatuan yang meluncur dari pegunungan. Bukankah cita-cita harus diwujudkan dengan kerja keras dan ketekunan? Aku setuju kerja keras dan ketekunan berbanding lurus dengan tercapainya cita-cita atau target-target kita. Itu dalam bahasa agama sering disebut dengan sunatullah—hukum sebab dan akibat. Namun realitas kehidupan tidak selalu seindah yang kita bayangkan. Kadang ada cita-citanya yang terwujud dan belum ada yang terwujud. Boro-boro terwujud, tanda-tandanya pun belum menyentuh kita.Nah ini bagiku sebagai bahwa manusia memang memiliki keterbatasan dalam kemampuan. Artinya kemampuan manusia masing-masing memiliki porsi dan kadar tertentu. Dari hal itu aku mulai menyadari keterbatasan itu mesti diterima dan diimani. Tidak melulu ditangisi bahkan menyalahkan orang lain dan Tuhan semesta alam. Hidup memang harus bertapa. Bertapa, maksudnya adalah menerima kepayahan, kelemahan, keterbatasan kita dengan sadar dan senang hati sambil merenugi diri dan kehidupan. Mungkin dalam kasusku ini bolehlah orang tua seyogianya mulai menanamkan pengertian diri pada anak-anaknya terhadap persoalan kehidupan dengan telaten dan hati-hati dalam menjelaskan sambil terus menyemangati sebegitu pentingnya memiliki cita-cita sampai setinggi langit atau melebihi. Intinya mungkin sebelum kita terbang ke langit, penting pula untuk menginjak tanah (bumi).

Selasa, 03 Mei 2016

Siapa Kamu?



Siapa Kamu?
Sebegitu pentingnya bermimpi karena dengan bermimpi hidup kita menjadi lebih berarti. Terlebih, sudah beratus-ratus motivator atau mungkin beribu-ribu mengatakan dalam sebuah pelatihan, talk show, dan buku mengenai pentingnya bermimpi. Bermimpi itu gratis, begitu mereka selalu berkata. Apa salahnya sih bermimpi jadi orang sukses, jadi pengusaha kaya raya, jadi dokter yang disenangi pasien karena kalau sudah disenangi tentu akan semakin banyak pasien yang berobat, jadi penulis terkenal. Yang salah itu tidak bermimpi sama sekali. Hanya bermimpi pun sudah enggan, bagaimana mau menjadi manusia yang berarti, kata motivator lagi.
Pada suatu Febriana si gadis cilik yang menarik itu ditanyai oleh teman sekelas yang bernama Rina Noser, mirip artis Rina Nose yang hidungnya menarik untuk dilirik itu. “Apa mimpimu?” kata Rina Noser dengan tangan yang menyapu keringat di dahinya. “Menjadi dokter yang disayangi pasiennya!” kata Febriani dengan mengangkat alisnya, sehingga mendekati keningnya. “Kalau kamu?” Febriana bertanya balik. “Menjadi dosen teladan di seluruh Indonesia,” tegas Rina Noser. Aku Anom Ali melihat percakapan kedua gadis muda itu dengan antusias dan khususnya aku memandangi Febriana yang memiliki hidung yang Indonesia banget. Tidak terlalu bangir, juga tidak terlalu menjorok ke dalam.
Sampai menjelang tidur aku masih dingiangi oleh percakapan singkat Febriana dan Rina Noser. Mimpi? Payah sekali aku ini, anak kecil seluruh negeri ini pasti memiliki mimpi dan cita-cita, namun aku baru mendapati mimpi sebagai bukan bunga tidur dan mimpi basah belaka. Ya mimpi ternyata menyangkit dengan jalan kehidupan kita nanti. Bodoh sekali aku ini, bukankah bu Mudrikatun yang guru sejarah tapi kadang berperan sebagai motivator selalu menyebut bahwa Soekarno dan para pendiri bangsa ini memiliki mimpi untuk membebaskan negeri ini dari kolonialisme guna menuju bangsa yang berdaulat dan merdeka.
Lalu apa mimpiku?
Spirit yang ditampilkan Febriana dan Rina Noser telah menjangkiti pikiranku untuk memiliki sebuah mimpi. Maka aku mulai bermimpi ingin menjadi seorang pengusaha yang sukses, tampil di televisi, dihormati seluruh orang, dihargai oleh para tokoh terkemuka. Semenjak duduk di sekolah SMP aku mulai mengkhususkan diri menjadi seorang pengusaha tapi masih bingung usaha apa yang hendak digeluti. Aha aku mulai menemukan ide; mengumpulkan barang bekas seperti yang dilakoni oleh para perantau Madura. Setidaknya, ini proses membangun mentalku untuk menjadi pengusaha.
Sepulang sekolah aku tidak langsung ke rumah. Aku menuju pemukiman yang dipenuhi rumah menengah dan bawah karena biasanya di sini terdapat banyak barang bekas yang bisa dimanfaatkan. Seminggu dijalani, aku sudah bisa mengumpulkan tiga karung bekas minuman air mineral dan kaleng bekas minuman bersuplemen serta barang-barang yang terbuat dari alumunium.  Stelah itu kujual ke pengusaha barang bekas Madura. Hasilnya, barang bekas itu memiliki bobot sepuluh kilo dikali seribu rupiah. Aku mendapatkan uang sebesar sepuluh ribu rupiah. Jumlah yang lumayan untuk siswa sekolah.
Dalam perjalanan dan berbagai pengaruh lingkungan, tiba-tiba aku mengubah haluan cita-citaku untuk menjadi seorang kiai populer dengan memiliki santri yang ribuan. Aku sendiri tidak memahami mengapa ingin menjadi kiai. Bukankah kiai tidak sekaya seperti pengusaha? Namun aku berpikir menjadi kiai itu enak. Disayangi masyarakat, dihormati pejabat, dan dihargai oleh orang-orang kaya. Kepada kedua orang tuaku, aku meminta untuk dimasukan ke sebuah pesantren yang tidak jauh dari sekolahku. Di pesantren aku mulai seirus mengaji kepada kiai. Selesai mengaji, aku mengulangi apa yang diajarkan kiai. Aduh lagi-lagi haluanku berubah, menjadi kiai rasanya berat juga. Harus menghapalkan dan memahami kitab-kitab agama. Dan yang pasti menjadi kiai tidak seenak yang dibayangkan. Menjadi kiai, segala tindak tanduk kita harus dijaga karena kiai adalah teladan bagi umat.
Aku banting setir mimpiku menjadi politisi. Itu terjadi ketika hendak keluar dari SMA. Hmmm aku mulai menuliskan dibukuku untuk menjadi politisi. Masuklah aku di kampus dengan jurusan ilmu politik. Di kampus aku seolah aku menjadi mahasiswa baru yang paling memiliki semangat dan progresifitas tinggi dengan mengikuti organisasi ekstra mahasiswa. Mobilitas dan kadang aku berpura-pura aktif menyampaikan pendapat inilah  membuat  senior diorganisasi mendaulatku untuk menjadi perwakilan mahasiswa baru di organisasi. Karena itu, banyak di antara senior dan mahasiswa baru memprediksi bahwa aku beberapa semester lagi akan menjadi ketua di organisasi. Tapi lagi-lagi di tengah jalan mimpiku berubah lagi. Menjadi politisi ternyata tidak enak juga setelah aku mendengar cerita para senior di mana politisi memang banyak musuh. Mereka sering menyebut dalam politik itu tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Ngeri-ngeri sedap juga ya, kalau meminjam kata-kata Shoetan Batoegana yang populer itu.
Aku memutuskan untuk menjadi dosen saja kalau di politik aku merasa tidak mampu. Dosen. Dosen. Dosen. Aku mencatat baik-baik lima huruf itu di pikiranku. Maka aku memulai menjadi kutu buku sebagaimana persyaratan untuk menjadi pengajar mahasiswa yang katanya cara berpikirnya harus menelebih anak sekolah. Ah, ternyata untuk menjadi dosen repot. Harus terus membaca buku dengan teliti dan tekun di samping harun mendapatkan indeks prestasi yang di atas angka tiga.
Aku pelan-pelan mulai meneliti pekerjaan dosen dari segi materialnya. Oh tidak setelah  berlelah-payah menguras otak, gaji dosen  tidak lebih jauh dari pegawai biasa. Mendingan jadi pengusaha saja! Pikirku. Aku kembali mempersiapkan mental untuk kembali menjadi pengusaha.
Bersama teman kelasku, Matunis, mahasiswa asal Madura, aku berpatungan modal untuk mendirikan rental play station di sekitar area yang dilewati para mahasiswa kampus. Maka berdirilah usaha rental play station di area yang disebut sebagai tempat bisnis karena memang itu strategis. Sepasang mata memandang berjejer kios-kios yang beraneka usaha. Ada jasa foto kopi dan penjilidan, warung makan, warnet, dan sebagainya. Mulanya usaha kami ramai oleh para mahasiswa, bahkan uniknya kami disebut teman-teman sebagai perusak otak mahasiswa karena mengalihkan perhatian mereka untuk main ps ketimbang belajar dan berorganisasi, namun dipertengahan jalan usaha kami melempem. Karena kalah saing oleh usaha rental ps yang lebih canggih yanmg letaknya tidak berjauhan dengan rental kami.
Kegagalan usaha menyebabkanku mengubah haluan lagi. Aku mulai menaruh perhatian pada dunia menulis karena waktu itu ramai sekali para penulis pemula yang karyanya dikenali dan dibaca masyarakat. Kepopulerannya ini berimbas pada materi mereka.  Dalam sekejap laiknya selebritas baru, para penulis mendulang materi yang berlimpah dari royalti plus iklan-iklan lainnya.  Belajar dari penulis orang lain melalui bukunya, mengklik cara-cara menulis yang baik dari google, dan mengikuti mpelatihan gratis menulis, aku menyibukan hampir tiap malam dengan latihan menulis.
Atas saran senior aku disuruh mengirim artikelku ke media dan mengikuti setiap lomba menulis. Alhasil, kerja kerasku berhasil. Artikel pertamaku mengenaim politik—demokrasi—dimuat di harian lokal Jakarta. Aku semakin beringas menulis dan menulis lagi. Aku mengikuti lomba menulis resensi buku yang diadakan kompas gramedia dengan syarat membeli buku yang akan dilombakan. Tidak masalah bagiku, namun aku berpikir uang pembelian buku ini harus kembali. Jelasnya balik modal. Maka untuk itu setidaknya aku wajib menjadi pemenang. Tidak menjadi pemenang pertama, ya menjadi pemenang kedua juga dan ketiga juga boleh. Tuhan mungkin sudah memberi jalan, aku tak disangka menjadi pemenang kedua dari tiga ratusan peserta. Oleh penerbit aku diganjari hadiah uang sebesar satu juta rupiah.
Kemenangan kedua dari lomba menulis diturut dengan kemenangan lainnya dengan hadiah uang yang lebih besar. Saat itu aku mulai yakin bahwa masa depanku dimulai dari tulisan. Setiap lomba menulis aku sikat dengan kepercayaan diri yang tak bisa diukur. Namun mengecewakan, berpuluh-puluh lomba yang kuikuti aku tak lagi mendapat peringkat pemenang. Kegagalan telah membuatku putus asa. Jalan apakah yang harus kutempuh? Aku mulai bertanya bagaimana masa depanku?
Kawan, pada akhirnya aku si Anom Ali belum memutuskan akan menjadi apa aku nantinya. Kuliah, menurutku saat itu tidak memberi jalan hidupku. Kuliah hanya membuang waktu dengan kegiatan yang tidak menghasilkan materi. Tapi tunggu dulu, kesimpulanku itu keliru belaka. Kuliah dalam arti yang sebenarnya itu memang penting. Dalam arti kuliah kita isi dengan belajar yang tekun dan sungguh tanpa harus berpikir nantinya akan jadi apa. Ilmu tidak memberi kepastian, tapi kepastian hidup akan terasa jika kita memiliki ilmu.
Namun bagaimana yang tidak kuliah atau tidak ada kesempatan kuliah karena waktu dan biaya? Mengutip kalimat budayan yang terkenal, kita boleh berhenti sekolah atau kuliah, tapi belajar harus terus berjalan.  
Dalam kasus ini aku ingin mengomentari bahwa memang si Anom Ali merupakan tipikal mahasiswa yang tidak berusaha menggali diri. Ia mungkin belum menyadari siapa dirinya. Kenalilah dirimu sendiri, begitu kata filsuf Yunani kuno yang juga sejalan dengan ajaran agama di dunia. Kita seakan dituntut untuk mengenali siapa diri kita berikut karakter, watak, dan kemampuan kita. Nah si Anom Ali ini terlalu fokus dengan spesifikasi karir-karir yang menjanjikan tanpa bertanya dulu kepada dirinya sendiri.
Karena itu dalam kesempatan yang berbahagia ini aku ingin menantang kawan-kawan pembaca dengan pertanyaan sederhana: siapa kamu?

Kamis, 28 April 2016

proyek buku "Three bachelors"



Taruhan
Didi tidak marah atas kejahilan Lupi. Jejaka yang mengaku mirip Baim Wong ini memang pernah berseloroh kepada Lupi dan Ipul. Katanya, hidup butuh gurauan dan kelakar kendati membikin sakit hati.
‘Tapi seumur-umur gue enggak bakalan lupa keisengan elu, Lip,” Didi terdengar seperti mengancam.
“Gue mulai paham siapa elu, Di!” timpal Lupi dengan enteng.
Didi menangkat bahunya yang gempal.
“Wah elu berdua mulai ketularan tabiat politikus ya? Diplomatis tapi menyindir. Nyinyir,” Ipul menganalisa.
Kemudian, suasana yang agak menegang, mereda. Pukul tujuh malam itu mereka bersiap menonton acara kesukaan mereka. Ipul menyalakan televisi 14 inc merk Polytron yang dibeli dari tukang elektronik bekas secara patungan.
Saat-saat seperti ini memang waktu yang pas untuk menikmati berita tentang seputar situasi yang terjadi di seluruh penjuru negeri, khususnya lagi berita aktual seputar politik praktis. layar hitam langsung berubah menjadi gambar-gambar manusia yang berkerumun. Mereka, para kuli tinta itu, merubungi seorang tokoh yang berpengaruh di negeri ini. Si tokoh nasional itu tidak bisa bergerak sedikitpun karena memang para wartawan sibuk menanyai paksa si tokoh yang mulai kelihatan tidak nyaman dengan suasana yang ditonton seluruh publik negeri. 
“KPK menanyakan hubungan saya dengan pak Konde. Saya bilang kalau saya pernah bertemu sekali dengan beliau di acara silaturrahim kebangsaan beberapa waktu lalu. Itu saja kok, enggak ada yang lebih,” jawab si tokoh itu dengan tenang.
“Apakah KPK menanyakan kemungkinan keterlibatan bapak dalam kasus ini?” tanya seorang wartawan dengan berani dan tentu ini agak menyindir si tokoh. Tapi si tokoh tidak menjawabnya. Dia langsung menuju mobil mewahnya dengan dikawal bodyguard yang gagah dan menyeramkan. Para wartawan yang meliput agak kecewa atas respon si tokoh. Tapi setidaknya mereka sudah mendapat bahan laporan untuk disampaikan ke publik.
Pak Konde yang terhormat, yang juga politikus tersohor karena ucapan-ucapannya yang kontroversial ini sekarang sedang menjadi tersangka. Ia terkena kasus mega korupsi yang merugikan negara hampi milyaran rupiah. Diduga ia tidak sendiri melakukan praktik korup. Masih ada beberapa pejabat yang disinyalir terlibat.
“Gue yakin dia terlibat,” Lupi berseloroh.
“Analisa elu?” Didi menagih alasan Lupi.
“Dari ekspresi wajah,” Tangkas Lupi menjawab.
Didi terkekeh. Lupi merasa tersinggung.
“Jadi selama ini elu belajar apa di kampus?” ejek Didi.
Lupi agak terpojok. Ingin menyela tapi merasa seolah sudah kalah. Ia memang menyadari ilmu berangkat dari perangkat ilmiah yang harus bisa dipertanggungjawabkan. Sementara mengamati kasus mega korupsi dari pendekatan ekspresi wajah sulit untuk dibuktikan meskipun di era sekarang pendekatan itu sudah mulai dikenal luas di publik. “Ya tapi setidaknya gue bukan dukun,” Lupi membela diri. Didi mengangkat alisnya. Memaklumi kekeliruan Lupi. Sejenak kemudian ia menoleh ke Ipul yang masih asyik menikmati tayangan berita.
“Kalau elu, Pul?”
“Wani piro?”
Lupi ngakak mendengar tukasan Ipul yang tidak disangka-sangka.
“Taruhan ni?” tanya Didi
Ipul membenarkan.
“Siap!” Didi mengiyakan.
“Dia pasti terlibat,” kata Ipul sambil menunjuk si tokoh yang masih ditayangkan televisi.
“Dan gue yakin dia tidak terlibat. Hanya lewat saja. Kebetulan. Supaya bikin geger dunia politik dan pemerintahan kita,” begitu kata Didi.
“Analisa elu?” Lupi merasa penasaran.
“Tidak perlu pake analisa segala. Kita sedang taruhan. Yang jelas gue tidak membacanya dari analisa ekspresi wajah, “ Didi tertawa ngakak. Ipul menahan sekuat mungkin untuk tidak ikut tertawa.
“Ok, gue ikutan,” Lupi mulai emosional.
“Gue yakin dia terlibat.”
Ipul memberi jempol untuk Lupi.
“Apa yang ditaruhkan?” nada Lupi seolah menantang dan seakan-akan akan mendapatkan kemenangan melawan Didi kendati pembuktian kasus korupsi tersebut  akan memakan waktu tidak sedikit.
“Selama tiga bulan uang kostan dan makan elu berdua gue yang nanggung, “ Didi menyombongkan diri. Padahal ia sendiri agak tidak yakin dengan prediksinya. Tapi ia tak mau kalah. Ia harus menang.
“Siapa takut?” jawab Lupi dan Ipul kompak.
***
Ketiga jejaka muda yang mulai beranjak menuju usia dua puluh ini mulanya tak pernah terpikir untuk tinggal satu kostan. Kebersamaan mereka dimulai dengan beberapa kali ganti teman kostan diikuti dengan beberapa kali ganti kepindahan kostan. Sampai di semester ke empat ini mereka dipersatukan. Keterdamparan mereka di kampus yang mulai bergengsi ini memiliki akar historis yang berdiferensiasi. Memiliki liku-liku dan lekukan yang mungkin dirasakan oleh setiap calon mahasiswa yang hendak mengadu nasib di kampus Jakarta.
Cerita ini dimulai dari Lupi. Semasih sekolah Lupi bermimpi menjadi bankir yang sukses seperti bibinya dari pihak ayah.. Karena itu ia mendaftarkan diri di sekolah kejuruan. Ia merasa kaget karena di sekolah ini ia harus berteman dengan perempuan. Dari tiga puluh siswa, ia lelaki sendirian. Tapi justru kondisi itu dipolanya menjadi sebuah peluang. Ia berpikir bergaul dengan perempuan akan mengasah ketelitian dan ketekunan yang memang melekat erat dengan karakter perempuan. Karakter yang melekat ini dimanfaatkan untuk menuju pintu menjadi bankir yang sukses.
Dan pada kenyataannya lingkungan kejuruan yang membuatnya menjadi lelaki emosional. Lebih dari itu, di antara bertiga Lupi menjadi pribadi yang lihai menarik perhatian cewek-cewek.
Sebagaimana anak SMA yang cerah menatap masa depan, Lupi memulai rencana untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Ya ia ingin menjadi bankir. Untuk itu ia bersiap mengikuti test di beberapa perguruan tinggi Jakarta yangb terkenal di bidang ekonomi dan perbankan. Universitas Indonesia, Trisakti, dan STIE Perbanas adalah incarannya untuk menorehkan masa depan. Tetapi ia ingin memulai test di kampus negeri terlebih dahulu, yakni UI lewat jalur mandiri, bukan tes nasional. Tingkat percaya diri yang tinggi membuatnya yakin namanya akan tertera di jurusan manajmen UI.
“Masa depan gue dimulai dari sini,” katanya pelan.
Di hari pengumuman, waktu itu, Lupi bangun subuh-subuh. Sarapan nasi uduk bikinan ibunya diselesaikan, ia berpamit kepada kedua orang tuanya. “Do’ain Lupi ya, ma, pak, semoga Lupi menjadi mahasiswa UI,” katanya seperti memelas. Kedua orang tua yang memang sangat menyayangi Lupi merestui. Bergegas Lupi menyalakan Honda Astreanya dari grogol menuju UI. Cukup satu jam sampai di UI, Lupi memasuki gerbang, dan langsung berhadapan dengan halaman kampus biru yang luas dan lapang. Ia meletakan motornya di halaman parkir bersamaan dengan para bakal calon mahasiswa UI.
Papan pengumuman sudah digerubungi para penerus masa depan negeri ini. Ada yang bergembira karena namanya tertera dalam papan itu. Ada yang masih mencari-cari nama masing-masing. Ada juga yang merasa kecewa dengan wajah bermuram durja karena nama mereka tidak tercantum dalam lembaran pengumuman. Bagi yang mengalami kegagalan seolah masa depan mereka tak bernyawa lagi. Lupi memilih mengamati mereka. Ia akan mendekati papan itu setelah mereka bubar. Ia melakukan ini karena seandainya namanya tidak tercantum tak ada yang melihat seraut wajah kecewa seperti mereka yang gagal. Namun jika berhasil, kebahagiaannya bisa ia nikmati sendiri.
Beberapa menit kemudian, di sekitar papan itu sudah sepi. Lupi memantapkan diri. Ia sudah menyiapkan mental jika harapannya tak sesuai. Ia melangkahkan kaki dengan yakin.  Melihat dari nama-nama yang tertera, kemudian matanya bergerak pelan merendah. Dari urutan 1 sampai 100 ia belum menemukan namanya.
Mata nyang lelah ia pejamkan sambil memanjat do’a. Ia meniliti lagi dengan saksama. Tetapi tetap ia tak menemukan namanya dari urutan 101-200. Ia mulai pasrah meskipun masih menyimpan harapan. Menarik nafas sejenak, kemudian meneliti lagi. Jika dari urutan 201-300 namanya tak ada berarti UI bukan tempat untuk menuliskan masa depannya. Ia mulai dilebati keraguan. Ia sendiri bahkan tak menyangka keyakinannya yang tinggi diakhiri dengan keraguan yang mencengangkan.
Ia mulai melirik rencana B jika rencana A gagal total. Tri sakti dan Perbanas adalah destinasi berikutnya. Terus dengan hati-hati ia meneliti. Namun nama Lupi Samarupi Bin Khalidi tak tercantum. UI dengan pasti bukan tempatnya menjadi orang beneran.
“Aku gagal,” kata Lupi kepada orang tuanya. Orang tuanya bersikap bijaksana tapi berterus terang bahwa mereka tak bisa melanjutkan studi Lupi ke Tri Sakti dan Perbanas. Alasannya terdengar klasik memang, biaya kuliah swasta lebih mahal ketimbang kampus negeri. Mau ke mana Lupi? Tapi orang tua Lupi tetap menginginkan anaknya melanjutkan sekolah.
Lupi berkeras pikiran. Siang dan malam ia memeras otak memikirkan ke mana kampus yang sesuai dengan mimpinya dan tentu saja biayanya terjangkau. Ia mulai mencari informasi. Singkat sekali ia sidah mendapatkan kampus yang sesuai dengannya. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Untungnya pendaftaran masih dibuka. Menyisakan satu hari lagi. Nasib memang tampak berpihak kepadanya. Masa depan seolah sedang terbuka lebar di hadapan Lupi. Dalam formulir yang disediakan kampus, Lupi mengisi tiga opsi jurusan. Tiga opsi ini wajib diisi. Mungkin sebagai kompensasi jika opsi ke 1 gagal, masih bisa diterima di opsi ke 2 atau ke 3. Ia dengan tangkas menulis Perbankan Syariah sebagai opsi ke 1, manajemen Keuangan sebagai opsi ke 2, dan ilmu politik sebagai opsi ke 3.
Lupi mulai menimbang peluang untuk lulus tes Perbankan Syariah. Logikanya sederhana, jika di UI gagal di UIN pasti berhasil. Sebab UI lebih mentereng menurutnya. Ia mulai berani bertaruh dirinya akan mulus menjadi mahasiswa Perbankan.
Diikutilah dengan senang hati test yang berlangsung tiga hari itu. Hasil test akan diumumkan seminggu berikutnya. Kesabaran Lupi sudah bertepi. Ia ingin segera pengumuman disegerakan. Hari terasa cepat bagi orang yang menjalaninya dengan keyakinan dan harapan. Pengumuman hasil test masuk tiba. Seperti di UI pada hari pengumuman papan hasil test dikerubungi bakal calon mahasiswa UIN. Lupi merangsek ke dalam kerumunan. Oh, darah Lupi merangsek naik, namanya tercantum di urutan ke tiga. “Yes,” teriaknya. “Akhirnya gue akan menjadi bankir yang kaya raya.”
Seakan ingin meyakinkan dirinya yang girang-gemirang, Lupi meneliti lagi namanya. Ya, benar itu namanya: Lupi Samarupi Bin Khalidi!. Nomor urutan tesnya pun sesuai. Tapi beberapa saat kemudian tubuhnya melunglai setelah ia melirik ke kolom berikutnya, setelah tulisan namanya. Nama : Lupi Samarupi Bin Khalidi, jurusan ilmu politik. Ah, tidak! Lupi menggelengkan kepalanya. Opsi 1 dan 2 gagal. Bagusnya, Lupi menerima dengan ikhlas jikalau harus mendarat di Ilmu Politik. Daripada tidak kuliah sama sekali!
“Ya sudahlah,” katanya pasrah dengan membayangkan dirinya menjadi politisi di suatu saat. Ia tersenyum geli. Orang-orang yang melihat tingkah Lupi merinding.
Pertaruhan masa depan terjadi di belahan timur Jakarta. Seorang pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai kuli buruh di industri rumahan yang memproduksi tahu tempe. Pasca merampungkan SMA, pemuda ini harus menyerah kepada keadaan. Ia mengubur dalam-dalam impiannya untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.
“Tidak mungkin aku kuliah. Ekonomi keluarga sedang tidak stabil, sementaa adik-adikku masih butuh biaya sekolah,” katanya waktu itu saat menerima ijazah SMA.
Setelah satu tahun menjadi kuli, ia membaca artikel di sebuah harian terkenal nasionaldengan judul, “Bagaimanapun Pendidikan Tetap Penting!”. Pemuda yang memiliki kulit putih dan rambut bergelombang dengan wajah mirip presenter Ramzi ini tergoda untuk sekolah lagi. Ia mulai memikir, menimbang, dan membahasnya dengan kedua orang tua.
“Terima kasih, ma, pak, sudah memberi izin aku untuk kuliah,” katanya dengan mencium kedua tangan kedua orang tuanya. Tapi mau kuliah di mana? Ngambil jurusan apa? Ipul mulai mencari-cari informasi kepada teman-temannya yang sudah terlebuh dahulu menginjakan kaki di perguruan tinggi.
“Ente harus kuliah di Jakarta,” kata temannya yang sudah menjadi mahasiswa di kampus Cirebon. “Jakarta aksesnya gampang kalau sampean cari sampingan penghasilan. Tapi ente harus milih kampus yang terjangkau dan jurusan dengan peluang diterimanya mudah. Ya tidak terlalu sulit gitu,” katanya dengan pengucapan huruf R yang kurang sempurna.
“Di mana?” tanya Ipul.
“UIN Jakarta. Jurusan Ilmu Politik.”
“Tapi aku pengen masuk jurusan ekonomi.”
“Terserah , “ jawab temannya.
Ipul resign kerja dari pabrik tahu-tempe dengan tabungan yang lumayan. Dengan tekad kuat berangkat ia ke Jakarta. Di sana ia menginap di rumah saudaranya.  Setelah beres menyelesaikan pendaftaran ia mengisi formulir seperti yang didapat oleh Lupi. Dari tiga opsi ia menuliskan ilmu ekonomi di opsi pertama. Ia cukup menuliskan opsi pertama karena ia yakin akan diterima di jurusan itu. Tapi pihak kampus mewajibkan ketiga opsim itu untu diisi. Maka ia memilih Manajeman di opsi kedua dan seperti kata temannya ia menuliskan ilmu politik pada opsi ketiga. Toh seperti senasib dengan Lupi, ia diterima di Ilmu Politik. “Di jurusan mana saja yang masuk tidak jadi masalah. Yang penting kuliahh,” katanya seolah pasrah.
Sementara di sebuah pusat kota Bandung, Didi yang sudah duduk di semester pertama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) jurusan manajemen bisnis dirasuki kegelisahan. Ia tak yakinkampus yang ditempatinya ini sebagai masa depannya. . Gejolak hatinya mengatakan ia harus hijrah ke Jakarta. Kerabat dan keluarganya kaget mendengarnya, dan lebih kaget lagi ia memutuskan untuk tidak memilih manajemen bisnis sebagai pilihannya lagi. Ia sudah muak dengan mata kuliah yang berbau angka-angka ekonomi. Ini artinya ia harus memulai kuliah dari awal lagi. Menjadi mahasiswa baru. Sia-sia ia habiskan dua semester di Bandung.
Banyak kampus yang bergengsi di Jakartan tapi ia memilih UIN sebagai pilihan masa depannya.  Dari tiga opsi jurusan yang harus diisi dalam formulir. Ia seperti Ipul hanya menulis satu opsi saja yang pada akhirnya harus mengisi ketiga-tiganya sesuai mandat dari kampus. Ilmu Politik ia tempatkan di pilihan pertama, diikuti Sejarah Peradaban Islam di pilihan kedua, dan sosiologi dipiliha ketiga. Lancar sekali ia mengerjakan tes soalnya ia mengisi dengan santai dan tidak terburu-buru karena yakin akan diterima di jurusan pilihan pertamanya.
Ketiga jejaka yang masih berapi-api ini akan mempertaruhkan masa depannya di ibu kota yang multi berat dan keras. Mereka sudah siap menerima segala apapun yang terjadi yang menghadang langkah-langkah mereka dengan sigap dan tangkas.
Filsuf Dramatik
Kini mereka mempunyai mimpi yang berubah. Mimpi menjadi bankir, pakar keuangan, dan ekonomi pupus sudah. Mimpi baru sudah berdiri di depan mata. Ketiganya bersemangat menjadi diplomat sesuai yang diimpikan Lupi, menjadi pemimpin yang dimaui Ipul, dan menjadi ahli politik yang dicita-citakan oleh Didi. Di sisi lain yang membikin semangat mereka mengejar mimpi adalah para alumni UIN Jakarta yang sudah dikenal oleh publik karena kapasitas dan intelektualitas mereka. Lebih-lebih mereka sering tampil di televisi nasional. Para alumni itu dikenal sebagai jurnalis, aktivis, politisi, dan cendikiawan atau pemikir. Karena itu, Didi, Lupi, dan Ipul semakin giat belajar sekuat mungkin, mereka memanfaatkan waktu dengan membaca. Tetapi jujur hingga semester empat ini mereka merasa belum mendapat apa-apa.
“Apa mungkin ada yang salah?” kata Lupi.
Didi dan Ipul tampak menyerap prediksi Lupi.
“Cara belajar kita yang salah. Kondisi kita juga salah,” tegas Lupi lagi.
“Maksudmu?” tanya Didi.
“Cara berpikir kita yang salah,” Ipul mencoba memahami. Kemudian dia melanjutkan lagi, “Selama ini kita belajar hanya di kampus dan kostan. Kita tidak pernah mencoba belajar di luar.”
“Kita harus belajar di forum-forum studi githu?” sambut Didi.
“Betul,” serempak jawab Ipul dan Lupi.
Menjadi mahasiswa memang menajdi impian setiap orang. Karena di kampus kita bisa mengenal segalanya dan setidaknya mengetahui dunia. Kampuslah yang bisa mencerahkan pikiran seseorang sekalipun kesimpulan ini bisa diperdebatkan karena toh masih banyak juga mahasiswa yang pikirannya kurang berkembang. Situasi ini mungkin tergantung pada setiap mahasiswa apakah mereka bisa memanfaatkan semua kesempatan yang ada di kampus. Di kampus di manapun berada selalu berdiri forum-forum studi yang mengkaji pelbagai disiplin keilmuan, tergantung minat mahasiswa. Forum studi ini sebenarnya yang menjadi pendobrak kebekuan keilmuan mahasiswa. Sudah banyak para tokoh nasional yang lahir dan berkembang dari forum studi sekalipun sebenarnya forum studi ini tidak termasuk dalam sistem kampus. Forum-forum ini biasanya terletak di luar bangunan kampus. Uniknya forum ini mendiami sebuah rumah yang disewa dengan biaya patungan dari para penggiat forum. Bahkan menariknya, forum-forum ini terus menerus melahirkan regenerasi yang tak putus-putus sekalipun tersendat-sendat karena karena biaya sewa rumah yang tahun ke tahun merangkak naik tanpa ampun.
Didi, Lupi, dan Ipul memilih bergiat di forum studi yang terletak kira-kira berjarak dua ratus meter dari kampus utama. Forum studi ini menempati sebuah rumah sederhana bertingkat dua yang memiliki ruang tamu yang lumayan luas. Ruangan tamu ini dijadikan sebagai tempat diskusi. Di sebelah ruang tamu terdapat kamar yang difungsikan menjadi ruang perpustakaan. Melangkah dua meter dari ruang perpustakaan berdiri kamar mandi. Di sebelah kamar mandi terdapat tangga untuk menuju ke lantai dua. Di lantai dua terdapat dua kamar tidur dan ruang santai. Biasanya di lantai dua ini para penggiat forum asyik membaca dan menulis sebelum dilahap oleh kantuk malam.
Forum studi tua ini serius menggeluti teks studi keislaman, filsafat, sosiologi, politik, sastra dan sesekali mencoba memahami ekonomi-politik. Selain itu yang menjadi keuntungan mahasiswa Jakarta adalah menjamurnya lembaga nirlaba yang fokus mengkaji masalah sosial dan kebangsaan. Lembaga-lembaga studi ini mengklaim independen, tidak berpihak pada kekuasaan tertentu meskipun  mengaku mendapat funding dari lembaga luar negeri yang memiliki satu visi. Didi, Lupi, dan Ipul sangat jeli memanfaatkan keberadan lembaga-lembaga tersebut untuk menambah wawasan mereka, dan tentunya menambah relasi.
Ketiga jejaka ini terkaget-kaget melihat geliat aktivitas forum studi yang mereka sambangi. Tampang para penggiat forum itu serius-serius dengan mata yang agak gelap karena sering bergaul dengan buku teks. Tidak tanggung-tanggung teks itu berbahasa Inggris dan Arab. Sesekali sih ada yang berbahasa Perancis.
“Mereka sangat mengakrabi buku,” ucap Didi dengan ketakjuban yang di luar nalar.
“Membosankan,” sela Lupi seenak udel.
“Membosankan tapi mau gimana lagi. Kalau mau pinter ya kudu baca buku,” jelas Ipul.
Didi, Lupi, dan Ipul bahu membahu memahami teks buku yang mengundang kening berkerut. Apa isi keseluruhan buku itu? Gagasan apa yang dibicarakan? Kesimpulan apa yang bisa ditarik dari buku itu? Mereka mulai serius menjadi pembaca yang teliti dan tekun dengan menandai gagasan teks baik dengan sebuah pertanyaan dan komentar. Karena memang buku  tidak sebatas teks, ia adalah hasil dari pemikiran para pemikir. Kegiatan ini memang cukup melelahkan pikiran mereka tapi mau bagaimana lagi karena ini adalah salah satu jalan untuk keluar dari lembah kebodohan.
Jika minggu kemarin mereka menggeluti pemikiran sosial, pada minggu ini mereka harus berjibaku dengan teks filsafat Yunani dimulai dari Plato.  Ketiga jejaka muda ini baru merasakan nikmatnya pemikiran filsafat padahal pada semester pertama mereka pernah bertemu dengan studi yang diklaim sebagai ibu ilmu pengetahuan ini. Sekalipun rumit, filsafat menuntun mereka pada penyelaman makna terdalam dari sebuah kehidupan. Karena saking mendalami teks filsafat itu, mereka jadi sering meragukan segala sesuatu. Mereka menjadi perenung seolah filsuf.
Biang keladinya adalah Didi ketika membaca kesimpulan pemikiran filsafat Thales, “kenalilah dirimu sendiri”. Pemikiran itu seakan mengguncang bangunan mapan seluruh pemikirannya. Siapakah diri gue? Kata Didi. Namun di balik kesangsiannya ia mencecap bahagia dan seperti mendapat pencerahan spiritual. Ini harus disampaikan kepada Ipul dan Lupi!
“Wow, menakjubkan,” Ipul tercengang. Lupi menggelengkan kepala.
Didi merebahkan tubuh pada kasur andalannya. Ia memejamkan mata sebentar, kemudian melek lagi. Dan akhirnya menatap langit-langit kostan. Lupi dan Ipul mengikuti tingkah Didi.
“Elu berdua pernah berpikir enggak?” Didi memulaim percakapan yang sepertinya akan berlangsung khidmat. Lupi dan Ipul menoleh kepada Didi.
“Ya maksud gue siapa sih diri kita? Apa tujuan kita di sini? Apa keinginan kita?” lanjut Didi dengan kedua tangannya yang dijadikan bantal.
Ipul menarif napas dalam-dalam sambil pula menatap langit-langit. Lupi mengubah posisinya. Ia kini selonjoran. Tubuhnya bersandar pada tembok yang dicat biru penuh coretan nakal dan gambar aktris Holywood, Cameron Diaz, yang hanya memakai bikini.
“Apa ya?”Lupi berlagak seperti orang dongok. “Jangan-jangan kita salah melangkah?” Lupi nyerocos lagi.
“Ya bisa saja tapi bukan itu,”Ipul menyahut.
“Persoalannya adalah kita mungkin abaia pada diri kita sendiri. Kita terlalu jauh ngomongin hal-hal yang tak terjangkau...”
“Padahal bisa saja yang kita inginkan begitu dekat,” Lupi menyela penjelasan Didi. Lalu, Didi dan Ipul mengangkat bahu atas respon terhadap pernyataan Lupi.
“Mungkin,” Ipul menambahkan.
Dramatik. Para jejaka yang limbung itu tersirap oleh kata-kata filsuf yang menakjubkan itu. Mereka benar-benar meragukan setiap apa yang sudah mereka lakukan dan rencanakan. Buat apa menjadi diplomat? Haruskah menjadi pemimpin politk? Apa untungnya menjadi ahli politik? Apa yang sebenarnya yang kami inginkan? Dan lebih berbahaya lagi untuk apa kami kuliah? Agar menjadi orang besar? Memperbaiki nasib? Atau memperbaiki negara yang masih saja bobrok?
Waktu ke waktu berjalan Didi, Lupi, dan Ipul kian parah saja. Kuliah mereka sedikit terabai. Masuk kelas sakarep dewek. Ketiganya tidak lagi mempelajari teks politik dengan sungguh-sungguh. Di sisi lain untungnya mereka tetap membaca buku-buku lain. Tapi sekali lagi bukan politik. Para peragu itu semakin giat mengikuti diskusi di forum studi. Pun mereka mencoba menjelajah teks lain. Dari filsafat yang berat sampai sastra yang menegangkan. Sekali-kali ya sih baca teks politik tapi lebih mendalam ketimbang teks yang diwajibkan di kampus.
Selagi mereka kacau balau soal absensi kelas sesungguhnya mereka bersenmangat mencari makna hidup. Menemukan jati diri yang masih terberai. Ruang kostan mereka kini tampak sepi tapi dijejali buku-buku dan perenungan yang filsafati. Bisa jadi filsuf masa depan lahir dari kostan milik pak haji Darman asli betawi ini?

Pencurian Terencana
Hidup ketiga pemuda tanggung yang tak memiliki kekasih itu berjalan di sekitar kostan, forum studi, dan sesekali ke kampus. Di ruang kostan pun mereka asyik dengan aktivitas masing-masing. Sesekali mereka diskusi. Sesekali nonton televisi.  Sabtu dan minggu mereka memilih tidur ketimbang olah raga, aktivitas rutin yang kerap mereka lakukan sebelum menjadi filsuf dramatik. Di saat menjadi perenung sejati, ketiga jejaka runyam ini tampil khas dan berkarakter.
Entah membaca buku apa Lupi mengganti celana bahan andalannya dengan jins yang ia beli murah dari Blok M. Kemeja panjangnya ia mutasi, berganti menjadi kaos santai dengan tidak menggunakan tas gendong lagi sebagaimana ia kenakan ketika ke manapun melancong. Parahnya, ia mulai gandrung rokok saban lagi suntuk. Namun rambutnya tetap di sisir ke sisi kanan dengan balutan minyak tancho yang klasik itu. Gaya bicaranya pun mulai meniru-niru teman sekelasnya. Aku ia ubah menjadi gue, dan kamu ia ganti menjadi elu. Padahal itu bahasa betawi yang merupakan leluhurnya dari pihak ibu.
Ipul yang mungkin tergila-gila dengan puisi-puisi romantik Kirdomulyo diam-diam sering mencoreti kertas HVS dengan sebuah kata-kata yang diusahakan mirip puisi para penyair. Lagaknya pun dimirip-miripkan para penyair. Sok nyentrik dengan memakai baju yang agak kelihatan lusuh. Celana jins yang sengaja dibelelin memakai silet. Rambutnya ia susun dengan tidak teratur. Sengaja tampil acak-acakan. Setiap kata yang ia ucapkan dipaksakan puitik dan dramatik. Bahkan dengan percaya diri yang tinggi ia memakai sandal jepit ke kampus seperti ingin mengatakan ke seluruh civitas akademika bahwa dirinya sudah menjadi manusia yang bebas. Tidak takut pada aturan kampus.
Nah, ini makhluk penyebab semua kekacauan yang tampil sok kontroversial dan nyeleneh. Didi sebagai pelopor filsuf dramatik mengklaim dirinya adalah titisan Socrates, filsuf pendek tapi mengguncang peradaban dunia karena konsistensinya dalam mencari  kebenaran hakiki tanpa lelah. Pemuda yang sebenarnya melankolis ini sering menghantam Lupi dan Ipul lewat sebuah pertanyaan demi pertanyaan yang seperti diada-adakan tapi menurutnya itu jalan mencari kebenaran. Katanya, seperti mengikuti metode sokrates yang tiada pernah berhenti bertanya pada sesuatu yang meskipun masih dipertanyakan kebenarannya.
Di antara ketiga jejaka runyam ini Didi paling mendalami seluruh bacaan dari buku-buku yang ia baca. Teks yang ia baca merasuki pikiran dan jiwanya. Hebatnya ia mengingat dan mampu menjelaskan gagasan besar dari sebuah pemikiran yang tersaji dalam buku. Sungguh ia kini bagaikan palu godam yang menghancurkan pendirian Lupi dan Ipul. Dari penampilan tidak ada yang berubah dari Didi. Ia tetap tampil kasual dengan balutan kaos rileks dan bawahan jins biru yang digemarinya. Hanya saja ia memakai kalung rantai berwarna emas imitasi bak anjing penjaga rumah mewah.
Namun Didi tetaplah pribadi melankolis. Ia masih suka mengurai air mata tatkala menonton  drama  Korea dan film India. Dirinya seolah yang menjadi subjek dalam drama itu. Kadangkala karena saking menghayati sebuah film, ia suka menyendiri di sebuah taman di komplek milik para orang kaya yang tidak jauh dari kostan mereka. Kacaunya dia sering mengkhayal sedang memacari aktris Korea dan India yang cantik-cantik itu. Di hadapan Lupi dan Ipul ia pernah berujar akan menikahi aktris pujaannya itu. Keterlaluan memang!
Semua tampak berubah cepat tanpa kompromitas meskipun sebenarnya perubahan mereka berangkat dari kegelisahan masing-masing khas mahasiswa yang mencoba menceracah belantara dunia yang baru. Perubahan-perubahan yang mendesir tanpa kontrol diri tak dimungkiri akan bermuara pada kegilaan. Orang biasa yang melihat dari sisi luar mungkin akan mencap mereka sebagai pemuda murtad yang sudah keluar dari rel-rel prinsip kepemudaan. Tapi bagi ketiga jejaka itu perubahan yang mereka alami sebagai anugerah alam yang tidak tertandingi oleh kelimpahan materi sekalipun.
Kuliah siang sampai sore ini mereka selesaikan dengan asal-asalan. Tidur di saat dosen menerangkan materi seperti yang dilakukan Lupi dan Ipul di balik buku tebal yang ia letakan dengan berdiri, sehingga dosen berhasil dikibuli mereka. Sementara Didi keluar pura-pura hendak ke toilet tapi tidak masuk kelas lagi. Ia tidur di mushola fakultas dengan seenaknya. Perubahan tingkah mereka ini mendapat perhatian dari teman-teman sekelas yang padahal menaruh minat kepada ketiganya karena ketekunan dan kesungguhan mereka mengikuti perkuliahan. Nuranggraini, yang biasa disapa Nur sangat khawatir pada mereka, terutama kepada Ipul. Mahasiswi asli Inderamayu yang memiliki lesung di pipinya ini dari semester pertama dikenal dekat dengan Ipul. Nur pernah mencoba mengingatkan Ipul agar tidak membolos kuliah lagi tapi dengan santai Ipul menjawab, “mendingan belajar di kostan daripada di kelas yang hanya pura-pura serius padahal main-main.” Nyelekit dan bikin telinga merah mendengarnya tapi Nur menyabari nonsens Ipul.
“Kawan-kawan tercinta ke perpustakaan yuk,” ajak Didi yang sudah bangun dari tidur panjangnya. “Siap,” kata Lupi dan Ipul yang sudah mencuci muka dari kekusutan karena tidur di kelas saat belajar.
Ketiganya memperlihatkan kartu identitas perpustakaan kepada petugas. Petugas mempersilakan. Lupi langsung menyambar deretan buku-buku sejarah. Konon ia lagi penasaran pada sejarah peradaban Islam, khusunya soal perang salib sebagai peristiwa paling menyeramkan dalam sejarah Islam dan Kristen yang menyumbangkan ribuan nyawa dan melautkan darah. Lupi memilih-milih dan mencari-cari buku yang ditujunya dari rak pangkal sampai ujung rak. Praaaak. Pelan, buku jatuh di hadapannya tapi ia merasa tidak menjatuhkan. Lalu segera terlihat sebuah jemari yang halus dan ramping sedang mengambil buku itu dan sebuah kepala yang terlindungi oleh kerudung krem. Warna kesukaan Lupi.
“Maaf,” kata mahasiswi itu.
Lupi melongok.
Ah, indah sekali perempuan ini. Pipinya merah. Alis matanya lentik. Matanya gelap tapi menusuk. Bentuk wajahnya pas. Tidak bulat juga tidak terlalu tirus. Hidungnya juga tidak jelek-jelek amat.
“Iya,”  jawab Lupi berdesir.
“Aku Lupi, anak Politik. Semester empat. Kamu?” Ah, begitu cara Lupi memulai perkenalan meskipun si mahasiswi yang indah itu tidak terlalu antusias untuk berbincang-bincang.
“Maaf,” mahasiswi itu mengulang dan berbalik badan. Hendak pergi.
“Nama kamu?” Lupi agak mengencangkan suara.
Si mahasiswi yang indah itu cuek. Pura-pura tidak mendengar. Tapi Ipul menandai wajahnya.
“Awas , ya,” gumamnya dalam hati.
“Pi, Didi lagi menunggu di lantai dua,” Ipul mendekati Lupi.
Mereka berdua lekas menemui Didi di lantai dua.  Didi sedang sibuk memilah buku-buku yang tebal. Di lantai dua ini memang disimpannya buku-buku tebal. Kebanyakan ensklopedia. Bahkan, sulit didapatkan meskipun dicari di toko terbesarpun.
“Sudah dapat?” tanya Lupi.
Didi mengerlingkan mata kanannya. “Sesuai rencana, bung.”
Sedang Ipul mengawasi situasi sekitar lantai dua.
“Ok, gue duluan ya!” sahut Didi.
Perut Didi yang diselimuti oleh sweater agak terlihat gendut. Tapi seorang petugas perpustakaan yang merasa kecolongan menyuruh Didi membuka sweaternya. Didi mendadak tegang. Ipul dan Lupi tampil ngeri. Gawat! Tapi Didi mencoba tenang dan bersahaja. Ia tidak ingin kelihatan dicurigai oleh petugas itu. “Gimana ini, pul? Tamat riwayat Didi. Bisa-bisa ia dikeluarkan dari kampus ini.” Ipul saking tegangnya tak menyadari kekhawatiran Lupi. “Bisa-bisa kita tidak lagi melihatnya makan mie rebus dicampur nasi,” Lupi semakin khawatir. Ipul tetap tegang.
 Didi dengan ikhlas membuka sweater itu. Lupi dan Ipul menutup mata dengan jarinya. Ah tidak!
“Terima kasih pengertiannya,” kata petugas itu.
Lupi dan Ipul melepaskan jarinya. Membuka mata lagi.
“Bagaimana bisa?” tanya Lupi kepada Didi.
“Ini,” kata Didi.
Buku yang hendak dicurinya ia masukan ke balik kaos, bukan sweater. Makanya dia aman. Tetapi sebelum buku itu disembunyikannya. Chips yang menempel pada sampul buku itu dicabutnya agar tidak mengeluarkan bunyi ketika hendak melwati garis batas keluar dan masuk ruang perpustakaan. Kalau tidak dilepas, bisa-bisa perpustakaan geger karena ada mahasiswa yang mencuri buku. Ini pasti akan menjadi berita heboh di seluruh kampus UIN Jakarta. Barangkali ketiganya akan diadili oleh pihak rektorat. Mungkin untuk pertama kalinya akan tersiar berita bahwa ketiga filsuf dramatik tertangkap ketika hendak mencuri buku perpustakaan.
Didi keluar mulus sambil membawa tiga buku langka dibalik kaosnya. Ia kemudian melangkah ke luar halaman perpustakaan. Tepat satu posisi dengan lantai dua di mana Lupi dan Ipul sedang menunjukan aksi konyol mereka. Dari lantai atas melalui jendela Lupi menjatuhkan beberapa buku tebal langka. Ipul mengawasi keadaan sekitar perpustakaan. Didi mengamankan buku yang dilempar oleh Lupi. Kali ini ia tegang tidak seperti di lantai dua tadi. Ia takut ada warga kampus yang melihat aksinya ini. Tapi hah situasi aman dan terkendali.
Pencurian yang direncanakan tadi malam berjalan sukses! Mereka tinggal melahap buku-buku itu nanti malam. Lalu tidur dengan tenang sambil mendengkur. Asyiiiiik!
Moral Sokrates
“Ide bagus tuh.”
Lupi menjentikannya jari gempalnya.
“Elu takut, Pul?” Didi menginterogasi.
“Sejak kapan gue menjadi penakut?” Ipul membela diri.
“Kalau begitu nunggu apa lagi?” Lupi menggambar wajah sumringah.
“Elu mikirin resiko, Pul?”kilah Didi.
Ipul tak menjawab, seolah memikirkan sesuatu. Entah apa.
“Ok, kalau begitu bungkus.”
Didi dan Ipul melongok.
“Maksud gue eksekusi,” jelas Lupi sambil cengengesan. Dia mengira Didi dan Ipul  mengikuti perkembangan bahasa zaman anak sekarang.
Malam ini setelah berita yang itu-itu saja. Berita Jakasa Agung yang ditangkap tangan oleh KPK sewaktu menerima suap, oknum polisi yang disuap oleh tahanan narkoba, anggota dewan yang melakukan tindak kekerasan terhadap pembantu, persidangan terpidana korupsi oleh politisi yang masih belum menunjukan perkembangan, cas cis cus anggota dewan yang menuntut fasilitas mewah, dan seabreg kasus ang membakar telinga masyarakat. Tontonan membosankan tapi bisa menjadikan lahan penghasilan bagi teman-teman yang bekerja sebagai penggali kebenaran. Gerrrr!
Para jejaka muda yang tambah kacau dan kian berkarakter itu sudah pening dengan taik kucing semua itu. Mereka lebih memilih menyusun rencana untuk mengambil absensi dosen yang disimpan di ruang dosen. Tapi mereka belum tahu letak persis data kehadiran mahasiswa itu. Mereka hendak mengambil buku itu dan mengubah data-datanya. Ya soalnya untuk tiga mata kuliah, yakni gerakan politik modern, sosiologi II, dan bahasa Arab kehadiran mereka sudah di ambang batas. Karena itu jika mereka tidak mengikuti kuliah satu kali saja untuk masing-masing mata kuliah tersebut, dengan hormat mereka harus mengulang tahun depan. Dosennya “pembunuh” semua lagi. Gila memang! Mereka gengsi harus satu kursi dengan juniornya nanti. Malu bin canggung. Mengapa sih absensi kehadiran begitu menentukan kontinuitas belajar di kampus. Toh, bukankah yang penting mahasiswa memahami dan menguasai setiap ilmu yang diajarkan di kampus? Huh, tapi aturan itu dibikin oleh kampus yang harus ditaati. Lebih-lebih seluruh civitas akademika sudah menyepakati aturan kampus tersebut. Ya, mau tidak mau mereka harus mengambil absensi kehadiran itu untuk menyelamatkan muka mereka dari para junior yang kadung menganggap ketiga jejaka itu sebagai mahasiswa yang dikenal sok kutu buku—pintar dan cerdas. Tapi disimpan di mana?
Pasca mengikuti kelas dengan asal-asalan seperti yang sudah-sudah, ketiganya terburu-buru menuju ruang dosen yang terletak di lantai tiga. Mereka menggunakan lift dari lantai tujuh menuju lantai tiga. Semenjak menjadai UIN—awalnya IAIN—kampus pembaharu ini dibangun dengan arsitektur megah dan mewah. Bentuk arsitekturnya adalah perpaduan tigs budaya: Islam, Barat, dan Indonesia. Jurusan-jurusan yang dianggap sekuler mulai berdiri. Tidak seperti masih IAIN yang terdapat studi keislaman sich. Tentu ini menjadikan UIN lebih lengkap dan berwarna. Sang rektor universitas—sebagai pejuang yang mengkonversi IAIN ke UIN—menyebut konversi sebagai upaya pengintegrasian keisalaman dan ilmu sekuler-modern guna menjawab tantangan zaman yang kompleks dan menggeliat. Sangat visioner!.
Alhasil, memang patut diakui perubahan ini menjadikan UIN Jakarta lebih greget dari sisi keilmuan, jumlah peminat calon mahasiswa yang setiap tahun membanjiri tes masuk, dan konversi UIN Jakarta diikuti oleh IAIN di hampir seluruh negeri. Namun, yang lebih menjanjikan adalah para alumni UIN yang mampu bersaing dengan alumni kampus-kampus yang dianggap bergengsi di Indonesia tercinta. Nah, mungkin pertaruhan ketiga jejaka ini tidak sia-sia memang, terkhusus untuk Didi yang sekuat tekad meninggalkan kampus lamanya. Ah, yang paling penting kepribadiannya mahasiswa yang menjadi penentu keberhasilan. Mungkin nama besar kampus hanya menyumbang sekian persen saja soal keberhasilan mahasiswanya.
Seperti aksi yang sudah-sudah, ketiganya membagi tugas. Ipul diamanahi sebagai pengawas area, Didi dan Lupi menjadi partner dalam ekskusi. Sore yang hampi menjelma, situasi kampus mulai sepi. Ruang dosen juga tampak lengang. Mungkin hanya terdapat sepuluh orang termasuk pesuruh dosen yang kerjanya menyediakan dan minuman serta tetek bengek lainnya. Jongosnya dosen. Mulanya mereka ingin beraksi di malam hari tapi resikonya tidak kecil. Seandainya aksi malam hari dilakukan, mereka harus mengendap-endap supaya tidak ketahuan satpam kampus. Lebih jauh, mereka kudu mendobrak pintu ruang dosen yang dikunci. Itu sangat beresiko besar. Jejak-jejak mereka pasti tercium.
Ipul berdiri di depan pintu sambil celingak-celinguk meneliti keadaan dengan seksama. Didi dan Lupi merangsek masuk ruangan. Ruangan itu memiliki luas sepuluh meter dan lebar sepuluh meter pula. Dengan luas dan lebar tersebut, ruangan itu bisa menampung tiga puluh dosen lebih. Pertama masuk Didi dan Lupi bertemu dengan meja pak Satria yang bertugas sebagai pesuruh dosen. Tugas pak Satria banyak. Ya kebanyakan mengkopi lembaran dan data kertas lainnya. Mereka melihat ke depan lagi. Di sana terdapat delapan orang. Dua orang baru saja keluar. Didi dan Lupi meneliti di mana kira-kira absensi itu diletakan.
“Nyari siapa, dek?”
Didi dan Lupi terkaget sebentar. Seorang dosen muda dan cantik yang tidak jauh dari mereka bertanya. Kedua sobat itu berusaha mencari jawaban yang pas. Si dosen cantik yang memakai jilbab biru itu memandang mereka dengan agak heran.
“Mengambil makalah kami yang masih salah.”
Si dosen masih belum mengerti.
“Tadi bu Farah menuruh kami mengambil makalah kami yang masih salah,” jawab Didi tenang.
Si dosen yang tampak terganggu itu manggut sedikit. “Silakan,” katanya.
Lupi mengelus dada. Ipul masih asyik mengawasi.
Didi dan Ipul pura-pura mencari meja bu Farah, dosen Filsafat. Mereka melangkah sedikit dari meja pak Satria. Beberpa langkah dari meja pak Satria, yakni di sebelah kanannya terdapat empat meja yang berisi berkas-berkas. Didi dan Ipul lupa sesuatu. Mereka tidak berpikir kalau absensi setiap dosen tidak disatukan dalam satu berkas. Masing-masing dosen punya data kehadiran.  Ah, mereka harus mengambil tiga absensi, donk. Satu untuk absensi mata kuliah gerakan politik modern, satu untuk mata kuliah Sosiologi II, dan satu lagi untuk mata kuliah bahasa Arab. Eah, pekerjaan yang tidak gampang. Di mana meja ketiga dosen itu?
Lupi bergerak semakin ke kanan mendekati jendela. Didi masih mencari-cari meja yang diburu. 
Bahu Didi bergidik. “Ini dosen bu Farah, dek.” Huh, seorang dosen yang agak tua menunjuk meja kerja bu Farah dengan menepak bahu Didi. Tapi dosen itu menuju keluar. Beberapa menit kemudian satu persatu dosen itu keluar. Menyisakan tiga orang dosen saja di dilam. Mantap. Jadinya mereka tidak terlalu deg-degan lagi. Didi langsung pura-pura mencari berkas di meja kerja bu Farah sambil mencari-cari ketiga meja yang diburu. Sementara Lupi masih meneliti. Ipul masih mengawasi di luar.
“Sob, ini,” Lupi memanggil pelan ke Didi. Didi mendekat.
“Ini,” kata Lupi menunjuk ketiga meja yang diburu. Kebetulan Tuhan menolong. Ketiga meja yang diburu bersebelahan. Kini Didi yang mengawasi, Lupi yang mencari. Aha. Beberapa menit kemudian data yang diburu sudah didapat.
“Mudah sekali, Di.” Kata Lupi pelan.
“Mereka menyimpanna tidak begit rapat,” Didi menimpali. “Mereka pikir mahasiswa di sini lugu-lugu mungkin,” kata Didi lagi.
“Ayo eksekusi,” Lupi meminta.
Misi berhasil. Mereka berpamitan kepada si dosen cantik yang baru saja keluar. Terima kasih, kata mereka. Tetapi tidak beranjak keluar. Dia masih ingin di dalam. Didi agak kesal. “Ayo, “ kata Didi.
“Sebentar,” jawab Lupi.
Lupi tidak ingin melewatkan pemandangan yang cantik. Dia kesengsem dengan si dosen muda cantik itu. Sayang si cantik itu mengajar mata kuliah di kelasnya. Didi menarik tangan Lupi. Lupi kesal. Tapi mereka harus keluar. Mereka menuju pintu dengan tenang tapi beberapa detik kemudian jantung mereka berdebar-debar. Pasalnya , dosen Bahasa Arab yang absensinya dicuri masuk berhadap-hadapan dengan mereka. Mana roman dosen itu seram sekali. Apalagi kumisnya yang tebal menakutkan. Didi dan Lupi merasa heran bukankah dosen itu hari ini tidak mengajar ke kampus. Juga kedua dosen yang abnsensinya mereka ambil juga tidak mengajar di kampus hari ini. Hari ini ketiga dosen itu biasanya mengajar di kampus lain. Si dosen seram itu tidak acuh tak acuh pada mereka. Didi dan Lupi langsung cabut.
Absensi sudah di tangan. Ketiga jejaka itu cepat-cepat keluar fakultas FISIP. Ngibrit tanpa menoleh lagi ke belakang. Takut si dosen itu curiga kalau-kalau dia tahu absensi hilang. Kalau ketahuan urusan bisa panjang. Bakal menjadi kasus heboh di kampus ini. 
“Waduh gimana ini?” Didi bingung.
Mereka tidak memikirkan bagaimana menghapus tanda X sebagai tanda ketidakhadiran mereka di kelas. Tanda itu ditulis dengan boldpoint. Satu alternatif hanya bisa dihapus dengan tipe x tapi nanti ketahuan bekasnya.
“Tipe X saja. Siapa tahu ketiga dosen ‘hantu’ itu abai pada bekasnya tipe x. Urusan mereka itu banyak. Mereka pasti luput,” Lupi menyarankan sambil menganalisa.
Didi menggeleng. Ipul memilih diam.
“Apa dong?” Lupi meminta solusi.
“Bakar saja!” saran Didi.
“Saran radikal,” Ipul mengomentari. 
Lupi menimbang tapi manggut-manggut seolah menyetujui saran Didi. Didi nampak yakin dengan idenya. Mau bagaimana lagi. Cara terbaik, menurutnya, absensi itu dibakar. Sekalian berjaga-jaga seandainya mereka dicurigai, absensi sebagai barang bukti bisa hilang. Artinya mereka bisa aman dari kecurigaan atau tuduhan. Ipul tidak bergeming. Seolah-olah dia tidak yakin dan mungkin tidak menyetujui ide konyol Didi. Didi menggemeratakan giginya, menunjukan kekesalan pada Ipul. Lupi melihat situasi itu. Didi mengamnil korek api dari lemari Lupi.
“Mau ngpain elu?” tanya Lupi.
“Ngerokok,” tukas Didi. “Ya mau bakarin ini lah,” jawab Didi sambil menunjuk absensi itu.
“Pikiran elu pendek,” Ipul menimpali. Lupi mulai khawatir kalau-kalau mereka adu mulut. Lupi memilih dia. Didi menyeringai. “Maksud elu?” kata Didi emosional. Korek apai itu tidak jadi ia nyalakan. Tapi sebentar kemudian ia nyalakan lagi.
“Elu enggak mikir kalau di absensi itu bukan hanya ada nama saja,” sergah Ipul.
Didi menatap Ipul dengan malas.
“Biarin daripada harus mengulang tahun depan. Toh kita pasti besok-besok tidak akan masuk lagi kelas dosen-dosen sialan itu kan?” Didi sedikit emosi.
“Udah biarin aja absensi itu. Enggak usah diapa-apain. Kita sportif aja. Kan, ini memang resiko kita membolos terus. Kalau dibakar berarti elu menghianati teman-teman yang sudah berusaha mengikuti kelas,” jelas Ipul dengan tenang.
Lupi diam. Tidak mau ikut terlibat.
“Masa bodoh,” Didi berkeras kepala.
Ipul tidak sanggup menahan emosi. “Mana moral Sokrates elu. Elu ngaku sebagai titisan Sokrates yang kukuh menjaga moral dan mendengar suara hati. Suara kebenaran yang elu sering katakan.”
“Terus apa maksudnya pencurian buku kemarin. Perencanaan kita malam lalu yang sepakat untuk mengubah data absensi ini,” Didi semakin tak tahan. “Elu tidak konsisten. Elu limbung, Pul. Taik lah.”
Ipul menunduk. Skak mat.
“Bersikap lah dewasa,” Lupi menengahi meskipun sebenarnya dia tidak ingin terlibat dengan perbedaan pendapat ini. “Gue rela kok harus mengulang tahun depan. Gue enggak malu sekalipun harus duduk bareng dengan adik-adik kelas nanti.”
Mata Didi membelalak. Terkejut. Kemudian, dia melempar absensi itu dengan emosional. Lupi memungut absensi itu dengan berat hati. Didi keluar , menutup pintu dengan keras. Lupi kaget. Lalu mengelus dada. Sementara Ipul hanya bisa mengepalkan tangannya yang mulai berkeringat.
Persekongkolan macam apa ini, kata Didi yang kecewa pada Lupi dan Ipul.
Minus Tambah Minus jadi Plus
Paska bersitegang dengan Ipul di malam yang buruk, Didi dan Ipul tampil dengan sikap dingin seseuai kekhasan masing-masing. Dalam situasi tersebut Didi mendadak ingat petuah kiai di pesantren dulu bahwa pencurian meskipun untuk kebaikan tetaplah tidak dibenarkan. Segalanya harus dilakukan dengan sportif. Bahwa bersikap semau gue tidak patut dituruti. Bahwa kita musti memperhatikan usaha orang lain adalah penghargaan terhadap kemanusiaan. Bahwa benar membakar buku absensi hanya untuk kepentingan sendiri adalah perilaku pecundang. Benar bahwa yang disarankan Ipul itu tepat untuk diterima tapi Didi tetap masih tidak mau berdamai dengan Ipul. Ipul pun masih tidak menerima dengan sikap Didi yang semau gue. Membanting pintu dan sekonyong-konyong ngatain taik segala. Sungguh lidah yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Bedebah!
Lupi yang tidak mau terlibat perang dingin berusaha berdiri di tengah-tengah. Dia ingin kedua sahabat gilanya itu kembali rukun. Mau rujuk. Zaman sudah modern kok masih bersitergang saja. Tapi Lupi kudu melakukan sesuatu. Tindakan kongkrit. Tapi apa dong? Tuhan please, help!
Kini Didi tak mengajak Ipul lagi kalau hendak jalan-jalan. Mulanya ia mau menurutsertakan Lupi tapi merasa tidak enak. Takut menyindir Ipul. Toh, Didi masih memiliki ketidakenakan perasaan. Ipul pun bersikap sama seperti Didi. Dia ogah mengajak Didi dan Lupi lagi manakala mau ada acara di luar. Jadinya ya ketiga jejaka itu jalan sendiri-sendiri. Kehangatan yang pernahmereka rangkai sudah berantakan. Semua kegilaan yang mereka lakukan telah luluh lantak. Segala kekonyolan yang mereka tampilkan sudah tak terlihat lagi. Segalanya menjadi dingin. Semuanya menjadi hambar. Hidup memang tidak pernah ajeg!
Sekali lagi Lupi harus berbuat untuk persahabatan mereka!
Pada malam ke tujuh paska perang dingin mereka duduk dalam satu ruangan di kostan. Menonton berita yang tidak pernah berubah-ubah. Ipul duduk bersila di tengah-tengah. Lupi duduk di sebelah Ipul. Didi bersila di samping kiri Ipul tapi agak menjauh. Suasana di kostan itu hening, tak ada yang bicara. Hanya suara reporter di televisi yang terdengar. Ketiganya tak lagi mengomentari sebuah kasus yang diberitakan seperti malam-malam yang lalu. Kaku dan canggung berlangsung. Lupi tak tahan menjalani semua ini. Selama setahu lebih sembilan bulan, dua tahun kurang tiga bulan kebersamaan mereka baru kali ini ketiganya dalam situasi perang dingin ini.
“Tidak seru,” kata Lupi yang sebenarnya menyinggung keadaan mereka. Tapi Didi dan Ipul tidak bergeming.
Lupi melanjutkan perkataannya, “tak ada kopi, tak ada gula, tak ada garam, tak ada semut. Hambar sekali ruangan ini.”
Didi dan Ipul tidak peduli.
Lupi berdeham, mengharapkan kedua sahabat egoisnya itu merespon. Didi dan Ipul tidak menangkap. Kesabaran Lupi memang terukur. Dia merasa sebal. “kalian sudah pada gede. Pada dewasa. Sudah mahasiswa. Baca buku tebal. Tapi tingkah kalian seperti anak kecil,” ucap Lupi dengan kesal. Tapi Didi dan Ipul tetap cuek.
Tokek. Lupi bak tokek, ngoceh sendiri.
Lupi mencari strategi, memikir cara untuk mengembalikan keutuhan persahabatan mereka tapi belum dapat-dapat. Tuhan belum berkehendak membantu.
“Ok, kalian maunya apa sih?” celetus Lupi dengan kesal. “Apa yang kalian ingin lakukan bakal gue jabanin. Didi elu mau absensi itu dibakar. Ya entar gue bakar,” terusnya. “Ya tapi absensi itu sudah ada di ruang dosen, lagi,” Lupi menundukan kepalanya. Pura-pura kecewa. Tapi sebentar kemudian Lupi mengumpat lagi, “Pul elu mau apa? Toh absensi sudah dikembalikan sesuai keinginan elu!”  Tapi Didi dan Ipul tetap tidak bereaksi. Lupi semakin tersinggung. Lupi bangun, melangkah keluar. Sama seperti tingkah Didi, dia membanting pintu. Tapi bantingannya lebih keras daripada Didi. Oh, Lupi jadi semakin terlibat dengan perang dingin ini. Culun sekali! Namun bagusnya dia masih mencari cara menyelamatkan persahabatan mereka yang karam. Oh Tuhan sekali lagi tolonglah!
Di dalam kostan yang masih ada Didi dan Ipul tetap canggung. Sejenak kemudian Didi memilih keluar juga. Sementara Ipul tetap bersetia mengikuti berita televisi. Didi sudah berada di kostan lagi beberapa menit kemudian, larut membaca buku di ruang pertama kostan. Tiba-tiba ponselnya yang masih itu-itu saja—nokia jadul—berdering. Panggilan masuk. Suara yang tergopoh-gopoh terdengar.
“Di, tolongin gue. Buruan,” itu suara Lupi, jejaka muda yang memiliki bentuk hidung seperti Akbar Tanjung itu seperti dalam keadaan bahaya. Didi tidak sempat bertanya. Panggilan dari Lupi sudah tertutup. Didi panik tapi ia masih egois untuk memberitahukan kepada Ipul. Jadinya dia memutuskan pergi sendiri.
Didi berlari kencang sambil menengok samping kanan-kiri, siapa tahu di sekitar yang dilihatnya nampak sosok Lupi. Mana Lupi? Ah, mengapa Lupi tak menyebutkan tempatnya. Didi berlari dengan panik. Dari jarak tiga meter di perempatan bakso langganan ketiga jejaka muda itu tampak sosok Lupi yang sedang diapit dua orang bertubuh kekar. Nampaknya Lupi sedang dianiaya. Sepertinya Lupi sudah tidak bisa bergerak. Dia butuh pertolongan pertama. Ini situasi yang gawat.
“Hei, bangsat,” teriak Didi. Kedua preman yang menganiaya Lupi mewajah murka. Kemudian melepaskan Lupi dengan cuma-cuma tapi wajah Lupi lebam. Rambut gaya sisi kanannya acak-acakan. Didi menantang kedua bajingan itu sekalipun jantungnya kikuk. Kepalan tangan Didi hendak meninju si preman satunya tapi ditahan oleh si preman yang satunya lagi. Serentak Didi sudah disekap. Otomatis Didi tidak bisa bergerak. Kedua bajingan itu tidak sepadan dengannya. Didi menyerah.
“Taik, lu. Bajingan elu pada,” suara Ipul muncul dengan gaya betawi. Meniru-niru supaya dianggap asli Jakarta. Kedua makhluk mengerikan itu tertawa-tawa.
“Anak ingusan,” seru si Preman.
“Jahanam. Enyah kalian ke neraka!”
Kedua preman semakin menggambar wajah murka.
“Sialan tengik,” kata mereka kencang.
Ah, tapi Ipul ngeper. Dia takut juga rupanya. Ancamannya sekadar gertak sambal.
Lupi yang masih tidak berdaya memang sengaja menelepon Ipul seperti yang dia lakukan kepada Didi. Sedang Didi tetap terkunci.
“Kita negoisasi,” kata Ipul menawarkan. Dia tidak mau berspekulasi dengan berkelahi. Dia pasti juntai. Kedua preman sangar itu terbahak-bahak tapi mulai serius.
“Bisnis?”kata si preman. Ipul mengiyakan. Wajah kedua preman mendadak sumringah. Mereka tidak perlu repot-repot lagi mengeluarkan energi intimidasi.
Ipul merelakan jam tangan yang dibeli dari uang tabungannya semasih menjadi buruh di pabrik tahu-tempe. Jam tangan itu memang berharga dan harganya tidak main-main. Kedua preman merasa ok tapi ingin meminta lebih. Pemerasan. Ipul tak menampik, dari pada babak belur mendingan menurut bebek saja. Kedua bajingan tengik tertawa. Lalu mereka melirik Didi yang sudah tak berniat melakukan perlawanan lagi. Dia takut, kemudian mengeluarkan uang lima puluh ribuan seadanya. Para preman itu tersenyum karena malam ini mereka sudah menguras kocek ketiga jejaka muda itu.
“Silakan kalian pergi,” kata preman itu.
Lebam di wajah Lupi dikompres dengan air dingin oleh Didi dan Ipul.
“Kenapa elu senyum-senyum, badut?” kata Ipul.
Lupi merengut sepersis bocah tapi senyum lagi. Kemudian ia melirik ke arah Didi dan Ipul berkali-kali. “Oh rupanya kalian sudah berdamai? Lupi menyindir.
“Elu mau gue tonjok, Pi?” kata Didi sembari mengepalkan tangan. Lupi ngikik. Ipul pun tak kuat menahan tawa. Mereka nampaknya menyudahi perang dingin yang berlangsung beberapa minggu itu.
Usai islah, Didi dan Ipul kembali akrab seperti semula. Keegoisan mereka seperti partikel yang memiliki energi minus. Energi minus ini tidak mau menyatu karena mempertahankan kekuatan masing-masing. Karenanya kekuatan energi ini tidak berpadu. Jauh dari keutuhan dan kesempurnaan. Akibatnya partikel itu akan remuk jika mendapat gangguan dari kekuatan dari luar. Tapi sekarang sesama energi minus itu sudah saling mengisi. Kekuatan mereka menyatu menjadi energi plus-plus. Karena itu sesuatu yang plus-plus akan terlihat berbeda di mata orang alias mungkin saja mengundang penafsiran.
Hari ini Didi dan Ipul berjalan berdua saja setelah nongkrong dengan kawan-kawan satu jurusan. Lupi mengaku sedang tidak memiliki mood untuk bertemu dengan orang-orang karena sebenarnya malu juga harus menunjukan wajah yang lebam. Mereka berjalan kaki dengan santai sambil sesekali menyanyi lagu yang lagi ngehits. Sembari menyanyi mereka menendang-nendang sampah kaleng minuman sehingga menimbulkan suara berisik. Ipul menghentikan aksinya itu karena akan mengganggu orang lain. Tapi Didi yang sengak tidak peduli dengan kekhawatiran itu. Begitulah Didi yang kadang jumud memahami makna kebebasan diri.
Keduanya sudah mendekati perempatan bakso, arah masuk komplek kostan mereka. Didi melirik ke kanan tepat ke arah kedai bakso. Di mengucek-ucek matanya memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
“Pul, lihat itu!” kata Didi sambil menunjuk kedai bakso.
“Itu si Lupi. Itu siapa satpam yang lagi makan bakso dengannya?” Ipul heran. Kemudian keduanya mendekati Lupi.
Didi dan Lupi menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak percaya.
“Apa-apaan ini?” kata Didi emosi.
“Kampret, elu, Pi.” Ipul tak kalah emosi.
Lupi mengangah. Kepalanya terangkat. Bakso yang ditelannya hampi keluar lagi. Kedua satpam dengan bodi besar juga terkaget-kaget.
Tapi Lupi mencoba tenang. Berusaha menjelaskan semuanya.
“Maafin gue. Gue lakuin ini untuk persahabatan kita. Beneran. Tidak ada maksud apa-apa. Cuma buat persahabatn kita kok.”
Didi dan Ipul masih tidak percaya. Si satpam mencoba menguatkan penjelasan Lupi, “ya kalian harusnya berterima kasih kepada Lupi. Dia bikin kepura-puraan ini untuk persahabatan elu pada.”
“Betul,” kata si satpam yang satu lagi sembari menenggak es tehnya.
Didi dan Ipul mencoba memahami. Menerima semua usaha Lupi yang menyewa kedua satpam itu untuk berpura-pura menjadi preman bengis di malam yang lalu demi persahabatan mereka. Lupi tidak mau hanya karena perbedaan pendapat semuanya menjadi hancur lebur begitu saja.
Tapi Didi dan Ipul masih penasaran. “Terus uang kita yang sudah dikompas mana?” tanya Didi dan Ipul kompak.
“Udah gue pake buat bayar bakso ini plus yang lain-lain,” jawab Lupi dengan tampang serius.
“Sialan lu,” sentak Didi.
“Kampret sampeyan,” bentak Ipul.
Lupi dan kedua satpam itu terbahak-bahak. Lalu, memesan beberapa mangkok bakso lagi dan beberapa es buah yang paling dingin untuk mendinginkan suasana yang sedang panas membara itu. Didi dan Ipul menarik nafas. Huuuuuuuuh